Petinggi BI Ini Klaim Optimalkan Operasi Moneter, Rupiah Tetap Nyungsep di Atas Rp17.000/US$

Iwan Medium.jpeg

Selasa, 14 April 2026 – 05:09 WIB

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Desry Damayanti. (Foto: Antara).

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Desry Damayanti. (Foto: Antara).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengaku telah mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter guna menjaga nilai tukar (kurs) rupiah. Namun, rupiah masih tertekan hingga melampaui batas psikologis Rp17.000 per dolar AS (US$).

“Kami akan mengoptimalkan semua instrumen operasi moneter yang kami miliki. Jadi yang sekarang ini yang terus dilakukan oleh kami adalah secara terukur, continue, dan juga timely,” ucap Destry dalam agenda Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Pascaeskalasi konflik antara AS–Israel dengan Iran, mata uang beberapa negara seperti Indonesia, Korea Selatan, Thailand, dan Filipina mengalami depresiasi yang cukup dalam.

Rupiah sendiri melemah sekitar 1,91 persen secara year to date (ytd) yang dipicu aliran modal keluar (outflow) yang signifikan serta meningkatnya ketidakpastian global.

Dalam rangka menghadapi situasi tersebut, lanjutnya, BI secara aktif melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar Non-Deliverable Forward (NDF).

Kehadiran di pasar NDF dinilai menjadi krusial karena pergerakan kurs di sana sering kali melonjak secara spekulatif, bahkan sebelum adanya transaksi riil di domestik.

Karena itu, pihaknya kini beroperasi 24 jam dengan mengoptimalkan kantor perwakilan di London dan New York. Pengawasan dilakukan secara berkesinambungan, mulai dari pasar finansial Singapura, Tiongkok, hingga Amerika Serikat (AS) guna memastikan volatilitas tetap terkendali.

Dari sisi likuiditas, BI menargetkan pertumbuhan uang inti (base money) tetap terjaga di atas 10 persen sebagai indikator bank sentral masih menempuh kebijakan ekspansif untuk mendukung penyaluran kredit perbankan.

Koordinasi erat dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan pemangku kepentingan terkait juga terus dilakukan melalui pembelian atau penjualan surat berharga pada momentum yang tepat guna menjaga daya tarik instrumen domestik.

Pihaknya turut meningkatkan tata kelola transaksi valuta asing di dalam negeri dengan mewajibkan setiap transaksi valas di atas 50 ribu dolar AS menyertakan dokumen pendukung (underlying transaction) yang jelas.

Rupiah Masih Tertekan

Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar AS (US$) ditutup di Rp17.105/US$ pada perdagangan Senin (13/4/2026). Angka ini melemah tipis dibandingkan penutupan Jumat (10/4) yang berada di level Rp17.104/US$.

Pelemahan mata uang Garuda memang tipis, karena hanya 1 poin atau setara 0,006 persen. Pergerakan rupiah sejalan dengan hampir seluruh mata uang di Asia. Sebut saja rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia, anjlok hingga 0,65 persen, disusul baht Thailand yang melemah 0,47 persen.

Selanjutnya, won Korea Selatan terjun 0,32 persen, peso Filipina turun 0,28 persen, dan yen Jepang melemah 0,21 persen. Diikuti ringgit Malaysia terkoreksi 0,19 persen dan dolar Singapura tergelincir 0,13 persen. Sementara itu, yuan China melemah tipis 0,07 persen.

Di sisi lain, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah ditutup naik 0,02 persen. Kemudian, dolar Hong Kong berhasil membalikkan keadaan dan menguat tipis 0,004 persen terhadap the greenback.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut sentimen berasal dari faktor eksternal, yakni blokade AS menyusul kegagalan perundingan perdamaian antara AS dan Iran pada akhir pekan.

“Presiden Donald Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa Angkatan Laut AS akan mulai memblokade Selat Hormuz, meningkatkan taruhan setelah perundingan maraton dengan Iran gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang, membahayakan gencatan senjata dua minggu yang rapuh,” ungkap Ibrahim di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang