Indonesia Jadi Pendiri Organisasi AI Global, Airlangga: Ini Kesempatan Emas

Clara Medium.jpeg

Sabtu, 18 Juli 2026 – 15:31 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat pertemuan dengan dua perusahaan teknologi global asal Tiongkok, yakni Huawei dan ByteDance di sela acara kunjungan kerja ke Shanghai, Tiongkok.(Foto: Dok-Kemenko Perekonomian)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat pertemuan dengan dua perusahaan teknologi global asal Tiongkok, yakni Huawei dan ByteDance di sela acara kunjungan kerja ke Shanghai, Tiongkok.(Foto: Dok-Kemenko Perekonomian)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Indonesia resmi menjadi salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) atau organisasi kerja sama internasional di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, keikutsertaan Indonesia di WAICO menjadi kesempatan emas untuk mempercepat pengembangan ekonomi digital nasional.

“Sebagai pendiri, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk berkontribusi nyata dalam kebijakan, dalam pengembangan tata kelola global, serta ikut aktif dalam kelembagaan WAICO sendiri,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Shanghai, China, dikutip Sabtu (18/7/2026).

Airlangga mengatakan, keikutsertaan Indonesia dalam organisasi tersebut juga merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto yang diumumkan dalam rapat terbatas tanggal 13 Juli 2026 lalu.

Airlangga menilai, status RI sebagai negara pendiri memberikan keuntungan strategis yakni kesempatan untuk terlibat sejak awal dalam pembahasan arah kebijakan AI di tingkat internasional.

“Karena dengan menjadi founder, kita tentu mempunyai akses pertama terhadap seluruh pembicaraan mengenai perkembangan daripada AI itu sendiri,” kata dia.

Lebih lanjut, Airlangga mengatakan nilai ekonomi dari pemanfaatan AI diperkirakan mencapai sekitar 130 miliar dollar AS pada 2026 dan meningkat menjadi 366 miliar dollar AS pada 2030. Potensi tersebut diperkirakan akan meningkat seiring penguatan kerja sama digital ASEAN melalui Digital Economy Framework Agreement (DEFA).

Adapun, untuk nilai ekonomi digital ASEAN diproyeksikan naik dari 1 triliun dollar AS menjadi 2 triliun dollar AS.

“Karena AI ini salah satu yang merupakan game changer ke depan, dan tidak ada satu negara pun yang di depan. Jadi dengan demikian kita bisa maju bersama-sama dengan berbagai negara lain,” tutur dia.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang