Ilustrasi – Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (30/1/2026). (Foto: Antara/Sulthony Hasanuddin)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pasar modal Indonesia mengawali perdagangan tengah pekan ini dengan rapor merah yang cukup pekat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu pagi (13/5/2026), langsung terkapar, dibuka anjlok 94,96 poin atau sekitar 1,38 persen ke level 6.763,94.
Layu sebelum berkembangnya indeks ini dipicu oleh ‘badai’ sentimen dari berbagai penjuru, mulai dari perombakan indeks global MSCI hingga nilai tukar rupiah yang kian tertekan.
Eksodus Massal dari Indeks MSCI
Pukulan telak datang dari pengumuman rebalancing periode Mei 2026 oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Penyedia indeks global ini resmi mendepak 18 saham asal Indonesia dari berbagai kategori indeks mereka.
Di kategori bergengsi, MSCI Global Standard Index, enam raksasa bursa resmi didepak: PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai langkah MSCI ini meningkatkan risiko arus modal keluar (foreign outflow) dalam jumlah besar. “Keputusan ini memperbesar risiko foreign outflow lanjutan dari pasar saham domestik dan semakin menekan sentimen IHSG,” ujar Liza dalam analisanya di Jakarta, Rabu.
Rupiah Tembus Level Psikologis Rp17.500
Kondisi pasar kian diperparah oleh nilai tukar rupiah yang terus menunjukkan pelemahan. Mata uang Garuda kini sudah menembus level psikologis Rp17.515 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini sejalan dengan menguatnya dolar AS secara global setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) melampaui ekspektasi pasar. Consumer Price Index (CPI) AS bulan April tercatat naik 3,8 persen secara tahunan, lebih tinggi dari proyeksi pasar di angka 3,7 persen.
Data inflasi yang membandel ini memicu kekhawatiran baru bahwa bank sentral AS, The Fed, berpotensi kembali menaikkan suku bunga acuan (hawkish).
Ketidakpastian di Kursi Panas The Fed
Selain faktor fundamental, gejolak di internal The Fed juga menjadi sorotan. Senat AS baru saja mengonfirmasi Kevin Warsh sebagai anggota Board of Governors The Fed. Kini, pasar tengah menanti voting untuk posisi Chairman menggantikan Jerome Powell yang diperkirakan berlangsung pekan ini.
“Mayoritas Demokrat menolak Warsh karena khawatir independensi bank sentral akan terganggu, meskipun Warsh menegaskan dirinya akan tetap independen,” jelas Liza.
Di tengah ketidakpastian moneter AS, perhatian pelaku pasar dunia juga tertuju pada pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di China pekan ini. Pertemuan dua pemimpin negara adidaya ini diharapkan memberikan titik terang terkait isu perdagangan dan ketegangan geopolitik global yang kian memanas.
Bagi investor di dalam negeri, kombinasi tekanan global dan domestik ini menjadi alarm untuk lebih waspada dalam mengelola portofolio di tengah volatilitas pasar yang tinggi.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













