Rupiah Terancam Kembali Tertekan: Efek Ambisi Militer Trump dan Inflasi Global

Napas lega rupiah pada Rabu pagi (13/5/2026) tampaknya hanya akan bertahan sekejap. Meski dibuka menguat tipis 14 poin ke level Rp17.515 per dolar AS, mata uang Garuda kini sedang menatap ‘badai‘ dari arah Washington dan Timur Tengah yang siap menyeretnya ke zona merah.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memberikan peringatan keras. Rupiah diprediksi akan kembali melemah dalam rentang Rp17.525 hingga Rp17.575 per dolar AS sepanjang hari ini. Biang keladinya jelas: risiko geopolitik yang memanas dan tren inflasi global yang tak kunjung jinak.

Sinyal Perang Trump di Selat Hormuz

Pasar keuangan global kini sedang diguncang oleh kabar dari Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan secara serius untuk meluncurkan kembali operasi militer skala besar di Timur Tengah.

Laporan Fox News mengungkapkan bahwa Trump mulai kehilangan kesabaran atas tertutupnya Selat Hormuz. Jalur urat nadi minyak dunia itu kini menjadi pusat perhatian melalui rencana operasi Project Freedom.

Jika Trump benar-benar menekan tombol serangan militer atau pengeboman terarah ke Iran, harga minyak mentah dunia dipastikan akan meledak. Bagi Indonesia yang merupakan importir minyak, kenaikan harga komoditas ini adalah pukulan telak yang akan menguras cadangan devisa dan menekan nilai tukar rupiah lebih dalam.

Stagflasi Global Menghantui

Kondisi eksternal kian suram seiring proyeksi terbaru dari International Monetary Fund (IMF). Lembaga ini meramal pertumbuhan ekonomi global pada 2026 bakal melambat ke angka 2,5 persen, sementara inflasi justru melonjak hingga 5,4 persen.

Dunia kini dibayang-bayangi fenomena stagflasi—kondisi di mana ekonomi melambat namun harga-harga barang terus meroket. Kenaikan yield obligasi pemerintah AS dan indeks dolar yang perkasa akibat sentimen ini membuat aset-aset di pasar berkembang, termasuk Indonesia, menjadi kurang menarik di mata investor.

Dilema Fiskal dan Batas Defisit 3 Persen

Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah membawa konsekuensi serius bagi postur APBN. Pemerintah kini berada di persimpangan jalan yang sulit. Ruang fiskal yang semakin sempit memaksa otoritas untuk memilih antara memangkas proyek-proyek prioritas atau mengambil langkah berisiko dengan melonggarkan defisit anggaran hingga melampaui batas aman 3 persen.

Jika pemerintah memilih melonggarkan defisit, kredibilitas fiskal Indonesia di mata dunia akan dipertaruhkan. Namun, jika tidak dilakukan, subsidi energi akibat kenaikan harga minyak dunia bisa jebol.

Kini, mata pelaku pasar tertuju pada ketegasan pemerintah dalam menavigasi ekonomi nasional di tengah tekanan luar-dalam yang kian beringas ini.