Dua orang pengemudi ojek online (ojol) berbincang di Jalan Thamrin, Jakarta. (Foto: Dok. Antara/M Risyal Hidayat)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pukul 8 pagi di depan Stasiun Juanda, Jakarta Pusat, Andin (26) hanya bisa menatap layar ponselnya. Aplikasi menunjukkan beberapa ikon motor bergerak di peta, tetapi status pesanannya masih mencari pengemudi.
Sudah delapan menit ia menunggu, padahal biasanya tidak sampai dua menit pengemudi sudah menerima pesanan.
“Iya sekarang kayaknya lagi krisis ojol ya. Kalau jam-jam sibuk susah banget dapet drivernya, biasanya gampang. Kadang sekalinya dapat tapi jauh jadi mau enggak mau tunggu,” ujar Andin menggerutu.
Bagi warga kota, ojek online bukan lagi sekadar aplikasi, melainkan penunjang utama mobilitas harian. Namun, kemudahan itu kini sering berganti dengan penantian panjang. Andin bahkan bercerita pernah terpaksa berjalan kaki dari kantornya menuju Stasiun Juanda karena tidak kunjung mendapatkan driver.
“Pernah jalan kaki pulang kerja karena nyerah nunggu ojol enggak dapat-dapat. Dari pada makin malam jadi akhirnya jalan kaki aja, lumayan 17 menit,” tuturnya.
Situasi ini memang kerap terjadi pada jam sibuk pagi dan sore hari saat permintaan meningkat tajam. Selain waktu tunggu yang lama, tarif yang melonjak drastis juga menjadi beban tambahan bagi pengguna jasa.
“Kalau jam sibuk bisa naik jadi mahal banget. Jarak dekat yang biasanya cuma Rp7 ribu jadi Rp16 ribu itu juga kalau dapat. Kalau enggak dapat pilihannya jalan kaki atau naik bajaj tapi harganya Rp20 ribu naik bajaj,” ucapnya.
Di sisi lain, para pengemudi juga memiliki alasan kuat di balik pilihan mereka. Rudi (35), yang sudah dua tahun mencari nafkah di jalanan, mengakui bahwa pengemudi kini lebih selektif. Ia harus menghitung jarak dan waktu tempuh agar tidak merugi.
“Kalau jarak jemput terlalu jauh atau macet parah, kadang dilepas. Karena waktu habis di jalan sebelum dapat penumpang,” tuturnya.
Bagi Rudi, efisiensi adalah kunci untuk mendapatkan penghasilan yang layak. Kemacetan parah di titik tertentu saat jam pulang kantor sering kali membuat durasi perjalanan tidak sebanding dengan tarif yang diterima.
“Pernah dapat penumpang jarak dekat tapi macet banget, tapi kalau saya yang cancel, saya jadi susah kan dapet penumpang lagi jadi ya sudah kalau penumpang yang cancel dia yang susah dapet drivernya,” ucapnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













