Wujudkan Ketahanan Energi Lewat B50, Akademisi Ingatkan Ketersediaan CPO

Iwan Medium.jpeg

Selasa, 28 April 2026 – 22:12 WIB

Ilustrasi – Petugas menunjukkan sampel bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel B-20, B-30, dan B-100 di Jakarta. (Foto: Antara).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pemerintah mencanangkan pelaksanaan program biodiesel 50 persen (B50) pada Juli 2026, bertepatan dengan penghentian impor solar. Konsekuensinya, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) harus digenjot agar mencukupi kebutuhan.

Dosen IPB University, Gusti Artama Gultom, menyatakan peningkatan produksi CPO dapat ditempuh melalui peremajaan tanaman atau replanting. Dibandingkan tanaman tua, produktivitas sawit pascareplanting bisa meningkat sekitar 3 ton CPO per hektare per tahun.

“Kebutuhan CPO untuk pangan dan energi akan mengalami tren naik. Implementasi B50 membutuhkan setidaknya 17–18 juta ton CPO, dan kebutuhan untuk pangan pun akan terus naik sehingga harus dilakukan replanting segera,” kata Gusti di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Namun demikian, ia menekankan replanting harus dilakukan dengan teknik budidaya yang tepat. Keterbatasan petani sawit di daerah, menurutnya, masih pada akses informasi yang memadai terkait budidaya. Karena itu, diperlukan program serius terkait teknik kelapa sawit (TKS).

“Kebutuhan minyak sawit nasional diproyeksikan mencapai 41 juta ton pada 2045 seiring meningkatnya konsumsi di dalam negeri. Agar kebutuhan terpenuhi tanpa mengurangi volume ekspor, Indonesia harus memaksimalkan produktivitas sawit yang bisa digenjot 5–6 ton CPO per hektare per tahun,” ungkapnya.

Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalimantan Tengah (Kalteng), Siswanto, mengatakan Kalteng merupakan salah satu sentra sawit di Indonesia. Namun, petani di daerah masih menghadapi berbagai tantangan.

“Tantangan globalisasi dan teknologi sering menyulitkan kawan-kawan petani. Perlu kita selaraskan untuk meningkatkan produktivitas industri sawit. Perlu kerja sama dengan banyak pihak, termasuk dengan Media Perkebunan,” ujarnya.

Ia menambahkan, program peremajaan sawit rakyat (PSR) sangat mendukung ketahanan pangan dan energi nasional, khususnya dalam menjamin ketersediaan minyak nabati.

“Ini sekaligus peluang ekonomi bagi daerah. Saya kira, potensi ini jangan sampai terlewatkan begitu saja,” tandasnya.

Sementara itu, Bupati Kotawaringin Barat (Kobar), Nurhidayah, mengakui besarnya potensi ekonomi dari sektor sawit, terutama dengan adanya program B50.

“Bagi daerah kami, sawit adalah penopang ekonomi Kobar. Hampir 60 persen masyarakat kami bergantung pada sawit, sehingga diperlukan upaya untuk pengembangan ekonomi daerah,” ungkapnya.

Untuk menjaga produktivitas tetap tinggi, pemerintah daerah mengalokasikan anggaran khusus setiap tahun untuk bantuan bibit kepada petani.

“Kami telah memberikan bibit sawit dan setiap tahun dianggarkan 25.000 bibit untuk kelompok tani maupun perorangan,” jelasnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang