Rupiah Semakin ‘Letoi’ ke Rp17.296/US$, Kinerja Perry Warjiyo Layak Dipertanyakan

Iwan Medium.jpeg

Kamis, 23 April 2026 – 10:55 WIB

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. (Foto: Antara).

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. (Foto: Antara).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar AS (US$) di pasar spot semakin mengalami tekanan hingga menembus level Rp17.200/US$. Pada Kamis (23/4/2026), rupiah dibuka lebih rendah, tepatnya di Rp17.221/US$.

Artinya, mata uang Garuda mengalami pelemahan 0,23 persen dibandingkan penutupan pasar pada Rabu (22/4), yang berada di level Rp17.181/US$. Namun, pada pukul 10.30 WIB, posisinya semakin anjlok ke level Rp17.296/US$.

Sementara itu, pergerakan mata uang di Asia cukup bervariasi. Peso Filipina mengalami pelemahan terdalam sebesar 0,45 persen, disusul baht Thailand sebesar 0,19 persen dan ringgit Malaysia turun 0,09 persen. Dolar Taiwan juga melemah tipis 0,02 persen.

Di sisi lain, yen Jepang dan won Korea Selatan mengalami penguatan terbesar, masing-masing sebesar 0,06 persen. Sementara itu, yuan China naik 0,05 persen dan dolar Hong Kong 0,02 persen. Nasib serupa dialami dolar Singapura yang menguat sangat tipis 0,008 persen.

Cadev Susut Besar

Pelemahan rupiah ini menandakan kinerja Bank Indonesia (BI) di bawah kepemimpinan Perry Warjiyo sebagai stabilisator nilai tukar layak dipertanyakan. Hal ini menjadi pertanda bahwa berbagai upaya yang dilakukan bank sentral guna meredam anjloknya rupiah belum membuahkan hasil optimal.

Padahal, operasi moneter yang dilakukan BI untuk menjaga rupiah tetap perkasa memerlukan biaya yang tidak sedikit. Lazimnya, cadangan devisa (cadev) digunakan sebagai “penopang” bagi rupiah.

Dalam tiga bulan terakhir, cadangan devisa mengalami penyusutan besar, yakni sebesar US$8,27 miliar.

Jika diasumsikan kurs Rp16.900/US$, tergerusnya cadev sepanjang Januari hingga Maret 2026 mencapai hampir Rp140 triliun. Artinya, rata-rata hampir Rp46,7 triliun per bulan, setara dengan anggaran subsidi pupuk selama setahun.

Meski cadev susut besar, Gubernur BI Perry Warjiyo tetap tenang. Ia menyebut posisi cadev Indonesia saat ini mencapai US$148,2 miliar dan menjadi fondasi kuat dalam menjaga stabilitas ekonomi serta nilai tukar.

Posisi cadev sebesar itu, kata Perry, lebih dari cukup untuk melakukan intervensi pasar dan memastikan ketahanan eksternal Indonesia terhadap dampak geopolitik yang sedang bergejolak.

“Kami terus melakukan stabilisasi nilai tukar Rupiah. Cadangan devisa kami sebesar 148,2 miliar dolar AS masih lebih dari cukup untuk memastikan stabilisasi ini,” ujar Perry secara virtual di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Selain mengandalkan cadev, BI juga menggunakan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai “amunisi” dalam menjalankan operasi moneternya. Dalam sebulan terakhir, BI telah meningkatkan struktur imbal hasil instrumen tersebut guna menarik aliran modal asing (portfolio inflow) kembali masuk ke pasar domestik, baik melalui SRBI maupun Surat Berharga Negara (SBN).

Perry menekankan, secara teknis posisi nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajar alias undervalued. Ke depan, nilai tukar diperkirakan akan bergerak stabil dan menguat, didukung oleh kondisi fundamental ekonomi yang sangat solid. Semoga bukan “omon-omon”.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang