Dunia gim daring yang sejatinya menjadi ruang bermain kini berubah menjadi medan ranjau yang membahayakan bagi anak-anak. Pemerintah Australia melalui Komisi eSafety mengeluarkan peringatan keras kepada sejumlah platform gim video global terkait meningkatnya risiko praktik grooming (manipulasi predator seksual) dan radikalisasi ekstremis di dunia virtual.
Badan pengawas keamanan daring Australia tersebut secara resmi mengeluarkan pemberitahuan transparansi wajib kepada sejumlah platform raksasa, termasuk Steam, Roblox, hingga Minecraft milik Microsoft, pada Rabu (22/4/2026). Langkah ini memaksa para pengembang untuk memaparkan mekanisme perlindungan mereka dalam menjaga keselamatan pengguna di bawah umur.
90 Persen Anak Jadi Target Empuk
Komisaris eSafety Australia, Julie Inman Grant, mengungkapkan data yang mencengangkan. Sebanyak 90 persen anak-anak Australia di rentang usia delapan hingga 17 tahun merupakan pemain aktif gim daring. Angka yang masif ini rupanya terendus oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Predator dewasa mengetahui hal ini dan menyasar anak-anak melalui praktik grooming atau menyisipkan narasi terorisme dan ekstremisme kekerasan dalam permainan,” tegas Grant dalam pernyataan resminya.
Menurutnya, infiltrasi narasi radikal dalam alur permainan dapat memicu risiko pelanggaran kontak di dunia nyata hingga bahaya ekstrem lainnya di luar platform. Mengingat platform-platform tersebut digunakan oleh jutaan anak secara global, peningkatan pengamanan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kewajiban mutlak.
Ancaman Denda Triliunan Rupiah
Australia tidak main-main dalam menegakkan aturan ini. Di bawah kode etik dan standar materi yang dibatasi usia, layanan daring yang terbukti lalai melindungi anak-anak dari paparan konten kekerasan berdampak tinggi dapat dijatuhi denda fantastis.
Nilai denda tersebut bisa mencapai 49,5 juta dolar Australia atau setara dengan Rp606,9 miliar (dengan asumsi kurs 1 dolar Australia sebesar Rp12.261). Ketegasan ini merupakan upaya pemerintah untuk memastikan ruang digital tidak menjadi tempat persembunyian predator.
Tak hanya itu, hukuman administratif harian juga menanti bagi perusahaan yang mencoba mengabaikan perintah transparansi ini. Layanan yang gagal mematuhi pemberitahuan dari Komisaris eSafety dapat dikenai denda hingga 825.000 dolar Australia atau sekitar Rp10,1 miliar per hari.
Uji Nyata Tanggung Jawab Korporasi
Langkah agresif Australia ini kini menjadi sorotan dunia internasional. Platform seperti Roblox dan Minecraft dituntut untuk lebih terbuka mengenai cara mereka mengidentifikasi, mencegah, dan menanggapi praktik perundungan serta ujaran kebencian daring.
Publik kini menanti bagaimana respons para raksasa teknologi ini. Apakah mereka akan memperketat filter keamanan demi masa depan anak-anak, atau tetap membiarkan celah itu terbuka demi mengejar angka pengguna yang masif? Satu yang pasti, di Australia, keselamatan anak-anak kini memiliki harga yang sangat mahal bagi para korporasi teknologi.













