Pasar Merah Merona, Purbaya Tetap Yakin IHSG Balik Ngebut ke 10.000

Nebby Medium.jpeg

Jumat, 24 April 2026 – 20:51 WIB

Karyawan mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Foto: Antara/Dhemas Reviyanto)

Karyawan mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Foto: Antara/Dhemas Reviyanto)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat menembus level 10.000 pada tahun ini, meski pergerakannya tengah berada dalam tren pelemahan.

Menurut Purbaya, tekanan terhadap IHSG saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen global. Ia menilai kondisi tersebut bersifat sementara dan akan mereda seiring membaiknya fundamental ekonomi nasional.

“Kalau ekonominya bagus, nanti (IHSG) naik cepat. Makanya fokus saya adalah jaga itu (ekonomi), bukan jaga IHSG. Karena IHSG akan menyesuaikan secara otomatis ke fundamental ekonominya,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Ia menegaskan, pemerintah lebih memprioritaskan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi sebagai faktor utama yang akan menentukan arah pasar saham ke depan.

Pada perdagangan Jumat sore, IHSG ditutup melemah 249,12 poin atau turun 3,38 persen ke level 7.129,49. Sementara indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga terkoreksi 25,12 poin atau 3,51 persen ke posisi 690,76.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di zona merah sejak sesi pertama hingga penutupan. Tekanan jual terlihat merata di seluruh sektor berdasarkan indeks sektoral IDX-IC.

Sektor barang konsumen nonprimer mencatat penurunan terdalam sebesar 4,14 persen. Pelemahan juga terjadi pada sektor infrastruktur dan energi yang masing-masing turun 4,03 persen dan 3,82 persen.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai pelemahan pasar saham dipicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Selain itu, pelaku pasar juga mencermati agenda ekonomi global, termasuk rapat kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau The Fed melalui FOMC Meeting. Pertemuan tersebut diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,53 hingga 3,75 persen.

Sejumlah data ekonomi AS juga dinantikan, mulai dari consumer confidence, data perumahan, produk domestik bruto (PDB) kuartal I-2026, hingga indikator inflasi dan manufaktur.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap IHSG juga dipengaruhi oleh keputusan Fitch Ratings yang menurunkan outlook kredit empat bank besar nasional, yakni Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Central Asia, dan Bank Negara Indonesia, dari stabil menjadi negatif.

Di sisi lain, pemerintah juga mengambil langkah antisipatif di sektor energi dengan mengamankan pasokan minyak mentah dari Rusia sebanyak 150 juta barel, sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional di tengah konflik di kawasan Timur Tengah.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang