Pasar Global Bergejolak Gara-gara Trump Blokade Selat Hormuz

Reza Medium.jpeg

Senin, 13 April 2026 – 11:35 WIB

Murka karena gagalnya negosiasi dengan Iran di Islamabad, Presiden AS Donald Trump ancam kerahkan Angkatan Laut untuk blokade Selat Hormuz. (Foto: Associated Press/Patrick Semansky)

Murka karena gagalnya negosiasi dengan Iran di Islamabad, Presiden AS Donald Trump ancam kerahkan Angkatan Laut untuk blokade Selat Hormuz. (Foto: Associated Press/Patrick Semansky)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sentimen positif pasar runtuh usai setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan blokade total terhadap akses maritim Iran di Selat Hormuz, imbas kegagalan perundingan damai selama akhir pekan, yang memicu lonjakan harga minyak dan jatuhnya pasar saham serta obligasi.

Minyak mentah Brent naik 6,8 persen ke posisi USD102 per barel karena kekhawatiran terganggunya jalur energi paling strategis tersebut. Di pasar ekuitas, bursa saham Asia terkoreksi 0,7 persen, sementara kontrak berjangka S&P 500 juga turun 0,7 persen akibat kekhawatiran dampak harga energi terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Nuansa diplomatik ini patut dipantau. Kementerian Luar Negeri Iran masih membuka pintu untuk pembicaraan lanjutan, jadi ini bukan kegagalan total, melainkan ketidakpastian yang berkepanjangan,” ujar Dionissios Kontos, salah satu pendiri firma analisis pasar Meyka AI, sebelum blokade diumumkan.

Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan, blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim pelabuhan Iran dimulai Senin pukul 10 pagi waktu New York. AS menyatakan tidak akan menghalangi navigasi kapal yang menuju pelabuhan selain Iran, namun Teheran menegaskan tidak akan membiarkan blokade tersebut berjalan.

Trump menyatakan AS akan mencegat kapal yang membayar “bea keamanan” kepada Iran dan akan melakukan pembersihan ranjau di selat tersebut. Kebijakan ini diprediksi menghentikan aliran hampir dua juta barel minyak Iran per hari, yang merupakan sumber pendapatan penting bagi negara tersebut.

“Pasar mulai terbiasa dengan fluktuasi tajam akibat berita utama. Kondisi bisa menjadi jauh lebih buruk jika Iran membalas dan AS melanjutkan rencana sebelumnya untuk menghancurkan peradaban Iran,” kata Fabien Yip, analis pasar di IG International.

Di pasar lain, mata uang Hungaria menguat terhadap euro dan dolar setelah PM Viktor Orban kalah dalam pemilu dari oposisi pro-Eropa. Sementara itu, Bitcoin turun tipis ke USD71.100 dan harga gas alam Eropa naik hingga 18 persen ke level €51,30 per megawatt-jam.

Hiroshi Matsumoto, manajer portofolio senior di Pictet Asset Management Japan Ltd., menilai pasar sudah mengantisipasi hasil negatif dari negosiasi akhir pekan. “Penurunan terbatas hari ini menunjukkan tidak banyak pelaku pasar yang membangun posisi beli besar pekan lalu setelah gencatan senjata,” katanya.

Pasar kini juga mencermati musim laporan laba kuartal pertama di AS yang dibuka oleh Goldman Sachs. Laba perusahaan indeks S&P 500 diperkirakan hanya tumbuh 12 persen, terendah sejak kuartal kedua 2025. Di tengah ketidakpastian ini, yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik menjadi 3,85 persen sejak konflik bermula.

“Trader obligasi kemungkinan akan menimbang permintaan safe haven terhadap pembacaan inflasi. Jika harga minyak terus naik karena kekhawatiran Hormuz, ekspektasi inflasi akan cepat disesuaikan dan menopang imbal hasil obligasi, sehingga membatasi potensi reli lebih lanjut,” kata Kyle Rodda, analis senior di Capital.com. 
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang