Warga mencari informasi mengenai Surat Berharga Negara (SBN) jenis Sukuk Tabungan Seri ST010 di Jakarta, Kamis (18/3/2023). (Foto: Antara/Hafidz Mubarak A/hp.)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Bankir senior yang pernah menjabat Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus DW Martowardojo mengingatkan tentang turunnya minat investor asing terhadap instrumen keuangan Indonesia bernama Surat Berharga Negara (SBN).
Fenomena ini, menurut mantan Menteri Keuangan (Menkeu) di era SBY itu, tidak boleh dipandang remeh. Pada 2018, ketika dirinya menjabat sebagai Gubernur BI, porsi kepemilikan SBN oleh investor asing, mencapai 41 persen dari total SBN yang beredar.
Capaian kala itu, menurut Agus, adalah yang tertinggi sepanjang sejarah keuangan Indonesia. Namun kini, berapa porsi kepemilikan asing di total SBN yang diluncurkan pemerintah?
Ternyata hanya tersisa 13 persen. “Jadi kalau 41 persen, kemudian turun menjadi 13 persen, itu suatu isu yang harus diperhatikan,” kata Agus di Jakarta, dikutip Minggu (18/1/2026).
Dia menjelaskan, anjloknya minat investor asing terhadap SBN, tercermin dari neraca pembayaran Indonesia. Pada 2024, transaksi finansial Indonesia masih mencatatkan surplus US$17 miliar.
Namun hingga September 2025, transaksi finansial justru berbalik menjadi defisit sebesar US$12 miliar. Salah satu penyebab utamanya, adalah penurunan investasi portofolio asing. Baik ke SBN maupun pasar saham domestik.
“Enggak bisa kita kemudian hanya mengatakan: oh, kita sudah punya kekuatan sehingga surat berharga negara, sekarang dimiliki domestik. Enggak bisa begitu cara berpikirnya,” terang Agus.
Agus juga menyoroti peran BI yang semakin besar dalam menopang pasar obligasi pemerintah. Saat ini, BI setidaknya memegang SBN senilai Rp1.600 triliun.
Sebagai catatan saja, pada sampai awal September, pasar obligasi Indonesia sempat mengalami gejolak.
Pada September, nilai kepemilikan SBN oleh investor asing adalah Rp908,09 triliun. Berkurang Rp44,76 triliun dibandingkan Agustus. Di mana, investor asing terus berada di posisi menjual SBN.
Sebulan kemudian, kepemilikan asing di SBN kembali berkurang menjadi Rp878,09 triliun. Meski demikian, yield SBN berangsur turun. Bahkan pada pertengahan Oktober sudah berada di bawah 6 persen untuk tenor 10 tahun.














