IAGL ITB Desak Pemerintah Genjot Lifting dan Industri Baterai, Ini Alasannya

Ajat Medium.jpeg

Minggu, 26 April 2026 – 01:00 WIB

Ketua Umum IAGL ITB Abdul Bari (kiri jas hitam) bersama Wakil Ketua Komisi XII DPR Sugeng Suparwoto (tengah) di Seminar Nasional Dinamika Geopolitik bertajuk Dinamika Geopoltik Dunia Terhadap Sustainability Industri Minerba, Minyak dan Gas Bumi Nasional di Gedung Antam, Sabtu (25/04/2026).(Foto: dok-iagl itb)

Ketua Umum IAGL ITB Abdul Bari (kiri jas hitam) bersama Wakil Ketua Komisi XII DPR Sugeng Suparwoto (tengah) di Seminar Nasional Dinamika Geopolitik bertajuk Dinamika Geopoltik Dunia Terhadap Sustainability Industri Minerba, Minyak dan Gas Bumi Nasional di Gedung Antam, Sabtu (25/04/2026).(Foto: dok-iagl itb)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ikatan Alumni Geologi Institut Teknologi Bandung (IAGL ITB) mendorong pemerintah memprioritaskan peningkatan produksi migas (lifting). Hal ini dilakukan guna mengantisipasi kondisi geopolitik yang tak menentu.

Pemerintah juga didorong turut menjadikan batubara dan nikel sebagai pilar energi serta memaksimalkan integrasi langkah kolaborasi strategis akademisi, pemerintah, dan pelaku industri demi mewujudkan kedaulatan dan kemandirian energi nasional

Ketua Umum IAGL ITB Abdul Bari menilai peningkatan lifting dapat dilakukan melalui pemberian insentif fiskal yang kompetitif, penguatan supervisi dan tata kelola (governance).

Pemerintah juga perlu melakukan penyederhanaan regulasi serta kontrak kerja sama, hingga peningkatan koordinasi terpadu antar kementerian maupun lembaga guna mempercepat realisasi produksi.

Dia membeberkan, defisit energi saat ini sangat mengkhawatirkan, dimana kebutuhan minyak bumi nasional mencapai 1,7 juta barrel per hari, namun produksi harian hanya mampu memenuhi 605.000 barrel per hari. Kondisi ini diperburuk oleh ketidakstabilan geopolitik global yang mengganggu rantai pasok minyak bumi internasional.

“Diperlukan langkah-langkah strategis dan memperkokoh kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri agar dapat menentukan arah kebijakan yang terfokus dan strategis menanggapi isu ketidakstabilan energi nasional,” kata Bari kepada wartawan di sela-sela Seminar Nasional Dinamika Geopolitik bertajuk Dinamika Geopoltik Dunia Terhadap Sustainability Industri Minerba, Minyak dan Gas Bumi Nasional di Gedung Antam, Sabtu (25/04/2026).

Mengantisipasi kondisi siaga energi di Indonesia, IAGL ITB mendorong pemerintah melakukan percepatan eksplorasi migas secara agresif dan efektif untuk memperkuat cadangan energi nasional serta memastikan keberlanjutan produksi dalam jangka menengah dan panjang.

“Rekomendasi dari kami, peningkatan lifting minyak. Ini bisa dilakukan dengan adanya insentif fiskal terhadap perusahaan-perusahaan minyak untuk melakukan eksplorasi dan agresif eksplorasi di minyak. Kedua, hilirisasi batubara itu sudah wajib banget karena kita harus beralih pada energi yang kita punya sendiri. Demikian juga dengan nikel. nikel itu sebagai storage untuk EV, itu juga jadi penting buat kita,” jelas Bari kepada wartawan di sela-sela seminar nasional tersebut.

Pengembangan Industri Baterai Nikel

Selain peningkatan produksi lifting dan hilirisasi nikel, termasuk menciptakan ekosistem industri baterai nikel, pemerintah juga didorong  melakukan pengembangan pembangkit listrik berbasis batubara yang lebih bersih.

Menurut Bari, di tengah ancaman defisit energi Indonesia, ada peluang strategis untuk batubara dan nikel sebagai pilar energi. Pasalnya, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang dapat menjadi solusi nyata.

Batubara contohnya, Indonesia memiliki sumber daya batubara sebesar 97 miliar ton dengan cadangan terbukti sekitar 32 miliar ton.

Hal itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan cadangan batubara terbesar di dunia. Potensi ini berperan penting sebagai sumber energi, khususnya sebagai bahan bakar pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat.

Selain itu, pengembangan hilirisasi batubara juga menjadi fokus strategis, antara lain melalui gasifikasi menjadi dimethyl ether (DME), peningkatan kualitas batubara (coal upgrading), serta penerapan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

“Upaya tersebut diarahkan untuk menghasilkan energi yang lebih bersih, meningkatkan nilai tambah, serta mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan,” papar Bari.

Sementara itu, nikel Indonesia memiliki sumber daya dan cadangan yang berpotensi menghasilkan listrik sebesar 50 GWh per tahun, dengan potensi keseluruhan di atas 1 TWh. Nikel merupakan bahan baku kunci dalam produksi baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi, menjadikan Indonesia sebagai pemain sentral dalam transisi energi global.

Sejumlah rekomendasi lain untuk pemerintah yaitu mendorong percepatan transisi menuju ekosistem energi berbasis listrik guna mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis minyak bumi secara bertahap.

Selain itu IAGl ITB memandang perlunya penguatan sinergi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri dalam merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan energi nasional yang efektif, terarah, dan berorientasi pada pencapaian kedaulatan energi nasional.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang