Harga Urea Global Tembus USD800, RI Justru Berpeluang Jadi Penopang Pangan Dunia

Vonita Medium.jpeg

Jumat, 3 April 2026 – 11:43 WIB

Pekerja melakukan bongkar muat pupuk bersubsidi di gudang penyimpanan pupuk distribution center Medan, Sumatera Utara, Jumat (9/1/2026). (Foto: Antara/Yudi Manar/tom.)

Pekerja melakukan bongkar muat pupuk bersubsidi di gudang penyimpanan pupuk distribution center Medan, Sumatera Utara, Jumat (9/1/2026). (Foto: Antara/Yudi Manar/tom.)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Penutupan Selat Hormuz akibat ketegangan geopolitik memicu lonjakan harga pupuk global, terutama urea. Namun, Indonesia dinilai berada dalam posisi stabil dan berpeluang menjadi penopang pangan dunia di tengah gangguan distribusi internasional tersebut.

Setiap bulan, sekitar 4 juta ton pupuk melintasi jalur tersebut, termasuk 1,5 juta ton urea dan 1,5 juta ton sulfur. Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, mengungkapkan gangguan ini menyebabkan harga urea global naik dua kali lipat.

“Sehingga meskipun terjadi gejolak harga urea yang meningkat sebelum perang itu USD400 dan sekarang sudah mencapai USD800 atau dua kali lipat, tapi kami bisa meyakinkan di depan Bapak-Bapak Pimpinan dan Anggota Komisi XI, insyaAllah untuk Indonesia aman, karena ureanya diproduksi dalam negeri,” kata Rahmad dalam RDP dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Rahmad menjelaskan bahwa produksi urea nasional mencapai 8,8 juta ton. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri tanpa bergantung pada situasi di luar negeri. Menurutnya, saat banyak negara lain terdampak krisis distribusi, Indonesia justru menjadi penyeimbang.

“Bahkan hari ini Indonesia bisa menjadi stabilizer atau bahkan penyelamat ekosistem pangan dunia. Kalau intuitif, biasanya Indonesia situasinya rentan jika terjadi kejolak dunia, khusus mengenai pupuk, kembali lagi saya menegaskan, khusus mengenai pupuk kita tidak terjadi gangguan khususnya kecukupan pupuk urea yang memang terganggu Hormuz,” ujarnya.

Sementara itu, untuk jenis pupuk fosfat dan potas, dampak geopolitik ini lebih berpengaruh pada kenaikan biaya logistik daripada gangguan produksi global.

Rahmad memastikan lonjakan harga urea global tidak akan memengaruhi Harga Eceran Tertinggi (HET) di dalam negeri. Ia menjamin kebutuhan pupuk subsidi maupun nonsubsidi tetap terpenuhi dengan baik.

“Sehingga insyaAllah pupuk akan aman, HET sudah turun 20 persen, tidak ada rencana untuk kembali meningkatkan, artinya HET akan tetap. Dan kebutuhan pupuk urea baik untuk subsidi pun nonsubsidi di Indonesia, kami dapat yakinkan bisa terselenggara dengan baik,” pungkasnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang