Harga Plastik Naik hingga 80 Persen, Puan Sarankan Bungkus Pakai Daun

Iwan Medium.jpeg

Kamis, 16 April 2026 – 22:38 WIB

Ketua DPR RI, Puan Maharani. (Foto: Dok DPR RI).

Ketua DPR RI, Puan Maharani. (Foto: Dok DPR RI).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ketua DPR RI Puan Maharani menilai semakin mahalnya harga plastik menjadi momentum untuk kembali menggunakan kemasan berbahan alami. 

Menurut dia, selain lebih murah, bahan kemasan organik juga lebih ramah lingkungan karena lebih mudah terurai setelah digunakan.

“Meskipun plastik dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari karena kepraktisannya, kita ketahui bersama beban ekologinya sangat tinggi. Maka kenaikan harga plastik bisa menjadi momentum untuk kita beralih ke ekonomi hijau,” kata Puan, dikutip Kamis (16/4/2026).

Saat ini, harga plastik di Indonesia dilaporkan naik hingga 30–80 persen. Kenaikan tersebut dipicu konflik geopolitik global yang mengganggu rantai pasok, sementara ketergantungan industri dalam negeri terhadap bahan baku impor plastik mencapai sekitar 60 persen.

Puan juga menyoroti dampak kenaikan harga plastik yang menekan pelaku UMKM, khususnya sektor makanan dan minuman (mamin) yang selama ini bergantung pada kemasan sekali pakai.

“Harga plastik yang melonjak dan pasokan yang mulai sulit diperoleh menyebabkan pelaku usaha kecil yang selama ini bekerja dengan keuntungan terbatas semakin kesulitan dari sisi ekonomi,” ujarnya.

Ia mendorong agar penggunaan kemasan kembali memanfaatkan kearifan lokal. “Dulu, penggunaan kemasan dari bahan alami seperti daun menjadi alternatif utama. Pedagang makanan atau pangan bisa kembali memanfaatkan kemasan ramah lingkungan seperti itu,” tuturnya.

Puan mencontohkan penggunaan daun pisang dan daun jati yang masih banyak ditemukan di sejumlah daerah. Di Jawa Tengah, misalnya, penjual nasi liwet, gudeg, hingga mi lethek masih menggunakan daun sebagai pembungkus makanan.

Pada beberapa jenis makanan, kemasan alami bahkan dinilai lebih fungsional karena dapat menjaga aroma dan cita rasa. Daun pisang, misalnya, masih umum digunakan untuk makanan seperti lontong dan lemper.

“Dengan memakai kemasan dari bahan organik, pelaku usaha tidak hanya bisa menghindari tekanan ekonomi akibat tingginya bahan baku impor, tetapi juga dapat menambah nilai jual,” ungkap Puan.

Ia menambahkan, penggunaan kemasan organik dapat mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam pengelolaan limbah dan pelestarian lingkungan.

“Kemasan organik yang sarat kearifan lokal juga merupakan inovasi ekonomi kreatif. Selain mendukung warisan budaya Indonesia, kita juga turut mengampanyekan gerakan ramah lingkungan,” ujarnya.

Puan juga mengutip laporan United Nations Environment Programme (UNEP) yang menyebutkan besarnya sampah plastik setara dengan 2.000 truk sampah yang dibuang ke laut, sungai, dan danau setiap hari.

Secara global, sekitar 19 hingga 23 juta ton limbah plastik disebut mencemari ekosistem perairan setiap tahun, yang turut mengganggu kemampuan alam dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim.

“Jadi semangat kita adalah, selagi harga plastik sedang tinggi, kita bisa mencari alternatif kemasan lain yang sekaligus mengurangi sampah plastik,” ujar Puan.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang