Harga Pangan Meroket di Pulau Sumatera, DPR Desak Pemerintah Perkuat Distribusi Logistik

Diana Medium.jpeg

Senin, 22 Desember 2025 – 16:52 WIB

Anggota Komisi V DPR RI, Ruslan Daud. (Foto: Ist/Andri).

Anggota Komisi V DPR RI, Ruslan Daud. (Foto: Ist/Andri).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Anggota Komisi V DPR dari Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh, Ruslan Daud mengungkapkan, kondisi darurat kemanusiaan yang masih menyelimuti wilayah Aceh, Sumatera Barat (Sumbar), dan Sumatera Utara (Sumut) memasuki pekan ketiga pascabencana banjir dan tanah longsor

Ruslan mengungkap, kondisi darurat kemanusiaan yang masih menyelimuti wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara memasuki pekan ketiga pascabencana banjir dan tanah longsor.

Dia mendesak, pemerintah untuk memperkuat koordinasi distribusi logistik dan membuka ruang, bagi bantuan internasional guna menekan lonjakan harga bahan pokok yang kian tak terkendali.

Menurut anggota DPR dari Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh itu, kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan yang masif telah memutus rantai pasok ke wilayah-wilayah terdampak, menyebabkan harga kebutuhan dasar melonjak hingga 100 persen.

“Distribusi logistik terganggu parah, dan dampaknya harga bahan pokok melonjak tajam. Ini sangat memberatkan korban bencana yang sudah kehilangan harta benda dan sumber penghasilan,” ujar Ruslan di Jakarta, Senin (22/12/2025).

Politikus dari Fraksi PKB ini, memaparkan, fluktuasi harga yang sangat kontras di lapangan beras 15 kg, naik menjadi Rp300.000 dari harga normal sebesar Rp150.000.

Di mana, gas Elpiji 3kg menembus Rp30.000 hingga Rp60.000 per tabung dari harga normal Rp22.000. Minyak goreng curah naik menjadi Rp25.000 per kg dari harga normal Rp20.000. Telur ayam mencapai Rp60.000 per papan dari harga normal Rp50.000.

Meskipun harga komoditas hortikultura seperti cabai mulai melandai ke angka Rp25.000 per kg, Ruslan menekankan bahwa hal tersebut tidak cukup membantu secara signifikan karena daya beli masyarakat telah mencapai titik terendah.

Melihat skala kerusakan dan luasnya wilayah terdampak, ia menilai bantuan kemanusiaan internasional sangat dibutuhkan sebagai solusi jangka menengah. Menurutnya, dukungan global akan sangat membantu menutup keterbatasan pasokan logistik nasional dan mempercepat proses pemulihan fisik maupun ekonomi warga.

“Kita menghadapi situasi darurat kemanusiaan. Banyak rumah warga masih tertimbun lumpur hingga ke atap. Masyarakat tidak akan mampu bangkit sendiri tanpa bantuan berkelanjutan, termasuk dukungan dari komunitas internasional,” tegasnya.

Ruslan mengingatkan, hingga hari ini, beberapa titik di pegunungan Aceh seperti Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Tamiang masih terisolasi akibat longsor. Ia meminta pemerintah pusat dan daerah segera memprioritaskan pembukaan akses transportasi ke wilayah-wilayah tersebut agar bantuan tidak menumpuk di pusat kota saja.

“Koordinasi lintas pihak, baik nasional maupun internasional, harus diperkuat. Kita harus memastikan tidak ada satu pun warga terdampak yang terlewatkan hanya karena kendala akses,” pungkasnya.