Sejumlah beras program SPHP yang dijual pedagang di Pasar Rawamangun di Jakarta, Rabu (24/12/2025). (Foto: ANTARA/Harianto).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengizinkan Perum Bulog menggunakan stok kemasan tahun 2023–2025 untuk penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tahun 2026.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan fluktuasi bahan baku plastik berdampak pada keterlambatan proses lelang kemasan beras Bulog.
Ketut menjelaskan, kebijakan ini diambil agar distribusi beras SPHP tidak terhambat. Pemerintah membuka ruang fleksibilitas penggunaan kemasan lama sesuai usulan Perum Bulog.
“Mencermati kondisi saat ini, terutama terkait kelangkaan bahan baku plastik untuk kemasan, perlu dibuka ruang fleksibilitas terhadap penggunaan kemasan lama beras SPHP. Langkah ini penting untuk percepatan distribusi,” kata Ketut di Jakarta, Minggu (26/4/2026).
Meski demikian, Ketut meminta Bulog memastikan informasi pada kemasan lama tetap sesuai dengan kondisi terkini. Informasi yang harus disesuaikan antara lain Harga Eceran Tertinggi (HET), tanggal kedaluwarsa, serta keterangan penting lainnya.
“Penggunaan kemasan lama beras SPHP sebelum tahun 2026 diperbolehkan sepanjang informasi seperti kelas mutu beras, nama dagang, HET, dan keterangan lainnya sesuai dengan produk di dalam kemasan,” ujarnya.
Ia menegaskan, penggunaan kemasan lama tidak boleh menimbulkan misinformasi di masyarakat. Penyesuaian dapat dilakukan melalui penempelan stiker pembaruan informasi yang tidak mudah lepas, tidak mudah luntur, dan ditempatkan pada bagian yang mudah terlihat serta terbaca jelas.
Ketut juga mendorong Bulog melakukan sosialisasi secara masif kepada seluruh pihak terkait penggunaan kembali kemasan stok 2023–2025. Total kemasan lama yang akan digunakan kembali diperkirakan mencapai 12,3 juta lembar.
Bapanas juga akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta Satuan Tugas Pangan Polri untuk mendukung kebijakan tersebut, guna mempercepat penyaluran beras SPHP ke masyarakat.
Pemerintah memastikan harga beras SPHP saat ini tetap stabil. Namun, pelaku usaha perberasan swasta mulai merasakan dampak fluktuasi harga bahan baku plastik. Bapanas memperkirakan harga beras bisa terdampak sekitar Rp300 per kilogram jika harga plastik terus bergejolak.
Dalam catatan Bapanas, realisasi penyaluran beras SPHP pada 2026 menunjukkan tren meningkat. Sepanjang Maret, penyaluran mencapai 70,01 ribu ton. Sementara hingga 24 April, realisasi telah mencapai 78,78 ribu ton atau meningkat 12,53 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













