PT Krakatau Steel (Foto: Tangkapan Layar YouTube Krakatau Steel Official)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ditimpa masalah keuangan nan serius, PT Krakatau Steel Tbk (Persero/KRAS) ‘menebalkan muka’ untuk meminta bantuan alias ngutang ke Danantara Indonesia Rp4,93 triliun.
Untuk utang yang jumlahnya nyaris Rp5 triiun itu, Krakatau Steel menjaminkan asetnya kepada Danantara, lewat PT Danantara Asset Management (Persero) senilai Rp13,94 triliun. Nilai jaminannya lebih dari 250 persen ketimbang utangnya.
Kali ini, KRAS benar-benar kepepet sehingga nekat menjaminkan setengah dari seluruh asetnya ke Danantara. Semuanya dilakukan demi menyehatkan kembali keuangan perusahaan yang sudah didera masalah sejak lama.
Corporate Secretary KRAS, Fedaus menyampaikan, penjaminan ini dilakukan lewat empat akta. Yakni, jaminan fidusia atas barang persediaan dan tagihan, gadai rekening, serta hak tanggungan atas aset tetap. Seluruh akta itu dibuat pada 8 Januari 2026 di hadapan Notaris dan PPAT Hapendi Harahap di Cilegon, Banten.
“Ini merupakan bagian dari komitmen perseroan untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung kelangsungan bisnis ke depan,” ujar Fedaus, dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Duit utangan yang digelontorkan Danantara sebesar Rp4,93 triliun ini, kata dia, terdiri dari kredit modal kerja. Nilainya lebih rendah ketimbang tambahan modal yang sebelumnya diajukan KRAS, sebesar Rp8,35 triliun. Selanjutnya, utang itu terbagi menjadi dua skema.
Pertama, pinjaman modal kerja senilai Rp4,18 triliun dengan tenor minimal lima tahun. Kedua, pinjaman Rp752,80 miliar untuk pendanaan program pengunduran diri secara sukarela melalui skema golden handshake, serta program penyehatan dana pensiun Krakatau Steel melalui mekanisme lump sum window, tenor minimal enam tahun.
Manajemen KRAS menyatakan, penyertaan pinjaman ini akan memperkuat likuiditas perseroan sehingga kegiatan operasional dapat berjalan lebih optimal. Kondisi tersebut diharapkan berdampak pada penurunan biaya produksi sekaligus meningkatkan daya saing produk Krakatau Steel.
“Perseroan juga dapat mengoptimalkan volume produksi dan penjualan, yang pada gilirannya berkontribusi terhadap penguatan kemandirian industri baja nasional dan mengurangi ketergantungan industri hilir terhadap baja impor,” tulis manajemen KRAS dalam keterbukaan informasi BEI, akhir tahun lalu.
Peningkatan penjualan itu, dinilai sangat mendukung pemenuhan ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada produk turunan baja yang digunakan dalam berbagai proyek pembangunan infrastruktur di Indonesia.














