Jurnalis senior yang juga Chief Content Officer (CCO) Kapanlagi Youniverse (KLY), Wenseslaus Manggut acara Kelas Jurnalis HAM yang digelar Kementerian HAM di Bandung, Rabu (20/5/2026).(Foto: inilah.com/Wahyu Praditya Purnama)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Jurnalis yang meliput isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) diingatkan untuk tidak hanya mengejar kedalaman cerita, tetapi juga mempertimbangkan risiko nyata yang dihadapi korban. Salah satunya adalah potensi terekspos ke publik hingga ancaman pembalasan.
Jurnalis senior yang juga Chief Content Officer (CCO) Kapanlagi Youniverse (KLY), Wenseslaus Manggut, menegaskan bahwa dalam peliputan HAM, keselamatan narasumber harus menjadi prioritas utama.
“Korban bisa terekspos di publik, bahkan berisiko mengalami retaliation atau pembalasan. Ini yang harus selalu diwaspadai jurnalis,” kata Wenseslaus dalam diskusi dengan materi “Teknik Wawancara dan Penulisan Berita Isu HAM” pada acara Kelas Jurnalis HAM yang digelar Kementerian HAM di Bandung, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, risiko tersebut bukan sekadar kemungkinan, melainkan situasi nyata yang kerap terjadi dalam praktik jurnalistik. Karena itu, pendekatan terhadap korban tidak bisa disamakan dengan wawancara biasa.
Wenseslaus menekankan pentingnya prinsip trauma-informed interviewing, yakni metode wawancara yang berangkat dari empati dan kesadaran atas kondisi psikologis korban.
Dalam praktiknya, jurnalis harus memberi ruang aman bagi narasumber, termasuk opsi untuk anonim dan kebebasan menghentikan wawancara kapan saja.
“Jangan sampai niat mengungkap fakta justru melukai korban untuk kedua kalinya,” ujar dia.
Selain itu, transparansi sejak awal juga menjadi kunci. Jurnalis wajib menjelaskan tujuan wawancara serta memastikan batasan informasi yang boleh dipublikasikan, demi menjaga keamanan narasumber.
Dalam konteks ini, Wenseslaus mengingatkan bahwa jurnalis bukan sekadar pengumpul cerita, melainkan pihak yang ikut menentukan apakah sebuah liputan aman atau justru berbahaya bagi korban.
Ia juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara kebutuhan publik atas informasi dan perlindungan terhadap individu yang terlibat. Menurutnya, tidak semua detail harus diungkap jika berpotensi membahayakan korban.
“Yang kita cari adalah fakta, tapi cara mendapatkannya dan menyajikannya harus bertanggung jawab,” terang Wenseslaus.
Dengan meningkatnya perhatian publik terhadap isu HAM, ia berharap jurnalis semakin sadar bahwa setiap keputusan editorial membawa konsekuensi nyata, bukan hanya bagi pemberitaan, tetapi juga bagi keselamatan manusia di balik cerita.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













