Gara-gara Marak Underpricing; Indonesia Rajai Pasar Batu Bara tapi Tak Bisa Tentukan Harga

Iwan Medium.jpeg

Rabu, 15 Juli 2026 – 20:05 WIB

Ilustrasi tambang batu bara. (Foto: Shutterstock)

Ilustrasi tambang batu bara. (Foto: Shutterstock)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Mungkin tak banyak yang tahu, Indonesia sebagai eksportir terbesar batu bara, tak mampu menjadi penentu harga global. Alhasil, batu bara asal Indonesia yang didominasi berkalori rendah, harus dijual obral. Alias di bawah harga pasar ekspor.

Sebuah lembaga wadah pemikir independen bidang ekonomi dan lingkungan hidup bernama Transisi Bersih, baru-baru ini melakukan riset. Hasilnya, indikasi praktik underpricing di sebagian besar transaksi ekspor batu bara asal Indonesia, sulit ditutupi

Maksud underpricing adalah kondisi ketika harga ekspor berada di bawah harga yang wajar, setelah memperhitungkan kualitas batu bara, nilai kalor, syarat perdagangan, biaya logistik dan waktu transaksi.

Artinya, menguasai volume ekspor belum otomatis menghasilkan kekuatan harga. Terutama karena struktur pasar yang justru memungkinkan pembeli utama menjadi raja. Karena mereka bisa menentukan harga secara suka-suka.

Senior Analyst Transisi Bersih, Muhammad Irfan Islami, mengatakan, Indonesia adalah salah satu pemasok batu bara berkalori rendah yang terbesar di dunia. Batu bara asal Indonesia sangat cocok untuk bahan bakar pembangkit listrik di Asia,

Tapi sayang, jumbonya ekspor batu bara tidak menjamin Indonesia bisa memegang kendali penuh atas harga jual. Ada indikasi, harga batu bara di pelabuhan sering dijual dengan harga obral.

Atau harganya lebih murah dibandingkan negara pengekspor lainnya, serta tidak sepenuhnya mengikuti pergerakan harga acuan pasar dunia.

“Indonesia merajai 47,3 persen pangsa pasar batu bara termal (kalori sedang dan rendah). Teorinya, pemasok dominan bisa kendalikan harga. Dalam praktiknya tidak begitu. Kekuatan Indonesia justru melemah,” kata Irfan di Jakarta, dikutip Rabu (15/7/2026).

Dia menjelaskan, harga batu bara Indonesia terus mengalami diskon struktural, tidak sepenuhnya mengikuti pergerakan harga acuan pasar dunia. “Kita bertindak sebagai pemasok kunci tetap diperlakukan sebagai penerima harga,” kata Irfan.

Underpricing bukan sekadar ‘cuci gudang’ atau menjual dengan harga obral, namun merujuk kepada harga ekspor aktual berada di bawah harga wajar (harga pasar wajar) yang seharusnya diterima, setelah memperhitungkan karakteristik transaksi yang sebanding. 

Misalnya merujuk kepada kualitas batu bara, kandungan energi, syarat penyerahan barang, biaya logistik, serta waktu transaksi.

Indikator awal dari praktik penentuan harga rendah adalah terjadinya selisih harga, antara batu bara Indonesia dengan harga acuan dunia. Salah satunya dengan merujuk kepada indeks Newcastle Australia 6.000 kcal/kg NAR

Dalam pandangan Irfan, ada tiga pendekatan untuk mendiagnosis penentuan harga rendah. Pertama, melakukan perbandingan lintas eksportir. “Jadi, kami menghimpun data negara-negara yang termasuk eksportir besar dalam batu bara dunia,” ungkap dia.

Kedua, menguji penerusan, apakah harga batu bara acuan di domestik (nasional), sesuai dengan harga transaksi pembeli utama. Ketiga, melakukan analisis statistik cermin. Sehingga akan terlihat apakah harga ekspor batu bara Indonesia ke luar negeri, misalnya China, dibandingkan pula dengan data impor batu bara Indonesia milik otoritas China.

“Nantinya akan terlihat, misalnya selisihnya itu apakah wajar, atau kira-kira ada potensi kebocoran. Selanjutnya kita sebut sebagai anomali murah,” ungkap Irfan.

Jual Obral Si Emas Hitam

Berdasarkan data 20 eksportir batu bara terbesar periode 2020-2024, harga batu bara Indonesia terjebak dalam diskon struktural. Di mana, 
Indonesia konsisten menjual si emas hitam itu, di harga US$50-US$60/ton lebih rendah ketimbang harga rata-rata eksportir besar lainnya.

“Diskon ini bukan anomali sesaat, pola penentuan harga rendah ini tetap terjadi dan tidak hilang meskipun harga dunia sedang naik atau turun,” kata Irfan.

Dia melihat, harga batu bara acuan (HBA) kalah karena lemahnya daya tawar eksportir batu bara Indonesia. Buktinya, setiap kenaikan 10 persen pada HBA, hanya mampu mendongkrak harga ekspor batu bara Indonesia sebesar 5,9 persen ke China dan India.

“Selisih harga yang 4,1 persen, tidak menjadi beban pembeli (China dan India). Namun ditanggung eksportir Indonesia. Terpaksa mereka memotong margin atau keuntungannya,” terang dia.

Menariknya, kata Irfan, meski China dan India adalah pembeli raksasa, daya tawar mereka tidak sama terhadap eksportir Indonesia. Pada tingkat HBA yang persis sama, rata-rata harga ekspor aktual ke India secara konsisten sebesar 21 persen lebih rendah dibandingkan China. 

Artinya, India memiliki kemampuan menekan harga jual jauh di bawah batas yang bisa ditoleransi pasar China. Membuktikan rapuhnya posisi penjual Indonesia.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang