Membuka ponsel pintar alias smartphone begitu bangun tidur kini sudah menjadi bagian dari ritual harian hampir setiap orang. Namun, niat awal yang sekadar ingin mengecek kabar terbaru atau mengintip keramaian di media sosial sering kali berbelok menjadi kebiasaan beracun yang menguras emosi. Kebiasaan ini dikenal dengan istilah doomscrolling.
Doomscrolling atau doomsurfing merujuk pada perilaku seseorang yang terus-menerus memelototi dan menggulir (scrolling) layar ponsel demi mengonsumsi berita atau konten bernada negatif. Mulai dari kabar bencana, konflik geopolitik, krisis ekonomi, hingga tindak kriminalitas.
Alih-alih membuat pikiran lebih siap menghadapi situasi buruk, gempuran informasi kelam ini justru menyedot kesehatan mental dan memicu rasa cemas, takut, hingga stres berat.
Jebakan Algoritma dan Haus Kepastian
Secara psikologis, dorongan untuk terus doomscrolling sebenarnya berakar dari naluri alami otak manusia yang selalu mencari kepastian di tengah situasi serba tidak menentu. Ketika ada krisis atau peristiwa besar, orang cenderung mencari informasi sebanyak-banyaknya demi meraih rasa aman.
Sayangnya, mekanisme pertahanan diri ini justru dimanfaatkan oleh sistem platform digital. Algoritma media sosial dirancang khusus untuk mengikat perhatian pengguna lewat fitur infinite scroll atau guliran tanpa batas.
Konten yang memancing emosi kuat –seperti rasa takut, marah, atau penasaran– akan terus disodorkan ke linimasa. Akibatnya, pengguna terjebak berjam-jam tanpa sadar telah menumpuk beban emosional yang tinggi.
Gen Z Indonesia Jadi Sasaran Empuk
Fenomena ini menjadi ancaman serius di Indonesia, mengingat negeri ini menduduki jajaran empat besar negara dengan jumlah pengguna media sosial terbanyak di dunia.
Kelompok Generasi Z menjadi pihak yang paling rentan terpapar. Data menunjukkan, rata-rata anak muda Gen Z menghabiskan waktu antara satu hingga enam jam setiap hari untuk berselancar di platform seperti Instagram, TikTok, X, dan Facebook. Bahkan, sekitar lima persen di antaranya nekat menatap layar hingga 10 jam sehari.
Dengan durasi penggunaan yang sangat tinggi tersebut, peluang Gen Z terperangkap dalam lingkaran setan doomscrolling makin terbuka lebar.
Dari Jiwa Terganggu Hingga Ancam Jantung
Dampak buruk doomscrolling tak bisa dipandang sebelah mata. Penelitian Shabahang dkk. (2024) serta Satici dan kolega (2022) mengungkap bahwa paparan berita negatif secara beruntun berhubungan langsung dengan peningkatan kecemasan eksistensial (existential anxiety) dan stres kronis.
American Psychological Association (APA) bahkan menyebutkan munculnya fenomena news-related stress, yaitu kondisi kelelahan mental akibat gempuran berita buruk.
Dampaknya tak berhenti di pikiran. Kesehatan fisik pelaku doomscrolling turut terancam mengalami:
- Gangguan tidur berat (insomnia).
- Kelelahan mata dan sakit kepala berkepanjangan.
- Lonjakan tekanan darah serta kelelahan kronis.
- Peningkatan risiko penyakit jantung akibat stres oksidatif jangka panjang.
Kapan Harus Berhenti dan Cari Bantuan?
Siapa pun yang mengidap kecemasan tinggi, mudah terpapar rasa takut tertinggal informasi (FOMO), atau kerap menjadi pembaca pasif di media sosial memiliki risiko lebih besar terjebak dalam perilaku ini.
Menyadari kemunculan tanda-tanda doomscrolling sejak dini menjadi kunci utama untuk memutus rantainya. Langkah sederhana seperti membatasi jam layar (screen time), mematikan notifikasi berita yang tidak penting, hingga memilah sumber informasi yang kredibel dapat membantu menjaga kewarasan pikiran.
Apabila rasa cemas akibat berita negatif sudah mulai mengganggu konsentrasi kerja, merusak pola tidur, dan mengacaukan aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya untuk segera berkonsultasi dengan profesional atau psikolog demi mendapatkan penanganan yang tepat.












