Sepanjang 2025, rupiah babak belur menghadapi dolar AS hingga tembus rekor terburuk Rp17.261 akibat tarif dagang Donald Trump. (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Saat pembukaan perdagangan di awal tahun 2026 yang bershio ‘kuda api’, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS, malah nyungsep. Mudah-mudahan hanya buruk di awal.
Pada penutupan perdagangan pada Jumat sore (2/1/2026), kurs mata uang Garuda melemah 38 poin, atau 0,23 persen ke level Rp16.725 per dolar AS. Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan ini dipengaruhi kombinasi sentimen global dan geopolitik yang masih sarat ketidakpastian.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar masih mencermati risalah Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Desember yang dirilis pekan ini. Risalah tersebut menunjukkan pandangan pejabat bank sentral AS alias Federal Reserve (The Fed) yang terbelah terkait arah suku bunga ke depan.
Sebagian pejabat menilai suku bunga sebaiknya ditahan setelah tiga kali pemangkasan sepanjang tahun lalu, sementara lainnya membuka peluang penurunan lanjutan apabila inflasi terus melandai.
“Namun, beberapa pembuat kebijakan menilai bahwa kemungkinan akan tepat untuk mempertahankan penurunan suku bunga lebih lanjut jika inflasi menurun dari waktu ke waktu,” kata Ibrahim, Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Tekanan eksternal juga datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik. Sebut saja, konflik Rusia dan Ukraina yang kembali memanas, setelah kedua pihak saling menuduh melakukan serangan terhadap warga sipil saat pergantian tahun.
Situasi yang tak kalah panasnya juga mengiringi upaya diplomasi intensif yang dipimpin Presiden AS, Donald Trump untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Di sisi lain, AS juga meningkatkan tekanan terhadap Venezuela dengan menjatuhkan sanksi kepada empat perusahaan dan kapal tanker minyak yang dikaitkan dengan sektor energi negara tersebut.
Langkah ini turut menambah kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global. Ketegangan di Timur Tengah pun kembali meningkat. Serangan udara Arab Saudi di Yaman serta pernyataan Iran mengenai “perang skala penuh” dengan AS, Eropa, dan Israel memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik kawasan.
“Trump memperingatkan akan adanya serangan lebih lanjut jika Iran melanjutkan pembangunan kembali program nuklirnya,” ujarnya.
Meski demikian, dari dalam negeri, sentimen ekonomi relatif terjaga. Sektor manufaktur Indonesia kembali mencatatkan kinerja ekspansif pada Desember 2025. Di mana, S&P Global melaporkan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 51,2, meski turun dari 53,3 pada November.
Angka tersebut masih berada di atas ambang batas 50, yang menandakan ekspansi telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut.
“Pendorong utama ekspansi tersebut berasal dari kenaikan pesanan baru yang terus berlanjut ke bulan kelima. Walaupun laju pertumbuhan permintaan melambat, perusahaan melaporkan bahwa peluncuran produk baru dan bertambahnya jumlah pelanggan menjadi faktor utama peningkatan penjualan,” ujarnya.
Namun, pesanan ekspor baru masih mencatatkan kontraksi selama empat bulan berturut-turut.
Untuk perdagangan awal pekan depan, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif. Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.720 hingga Rp16.750 per dolar AS.












