Alisa Wahid Ingatkan NU Era Gus Dur yang Selalu Jaga Jarak dengan Kekuasaan

Diana Medium.jpeg

Minggu, 21 Desember 2025 – 13:00 WIB

Ketua Panitia Haul ke-16 Gus Dur, Alissa Wahid menyampaikam sambutan pada peringatan haul ke-16 Gus Dur di Ciganjur, Jaksel, Sabtu (20/12/2025). (Foto: RRI)

Ketua Panitia Haul ke-16 Gus Dur, Alissa Wahid menyampaikam sambutan pada peringatan haul ke-16 Gus Dur di Ciganjur, Jaksel, Sabtu (20/12/2025). (Foto: RRI)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ketua Panitia Haul ke-16 Gus Dur, Alissa Qotrunnada Wahid mengungkapkan, sikap KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur saat menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) 1984-1999.

“Dalam kepemimpinan Gus Dur, NU bergerak menjadi pemimpin gerakan masyarakat sipil, gerakan rakyat,” ujar Alissa.

Ia menyebut, Gus Dur selalu berada di barisan masyarakat sipil. Bahkan, kiprah Gus Dur tidak hanya untuk kalangan Nahdliyin. Tidak hanya mengurus jemaahnya saja, NU bersama Gus Dur mengajak para pemuka agama lain untuk terus memperjuangkan kedaulatan rakyat.

“Terutama dalam masa rezim militer Orde Baru, menolak penindasan kepada rakyat atas nama pembangunan,” jelasnya.

Selain itu, Alissa menekankan bila selama menjabat presiden, Gus Dur tidak pernah memberikan privilege kepada NU, terlebih perihal konsesi tambang. Sebaliknya, Presiden RI ke-4 tersebut justru menganjurkan agar NU tetap mengontrol roda pemerintahan yang dipimpinnya.

“Namun, jangankan merayu dengan memberi konsesi tambang, Gus Dur justru sebagai presiden mengingatkan warga NU harus terus kritis kepada penguasa,” tegas Alissa.

Ia menyatakan hal itu memang sudah menjadi tugas para kiai dan nyai, yakni memikirkan kemaslahatan umum di atas kemaslahatan pribadi atau kelompok. Karena itu, NU perlu menjaga jarak dengan kekuasaan.

“Dawuh Gus Dur, NU harus menjaga bandul keseimbangan kekuasaan dan terus mengingatkan bahwa kekuasaan adalah untuk rakyat,” pungkasnya.

Sebelumnya, sebuah autokritik tajam dan mendalam disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), dalam acara Puncak Haul ke-16 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Masyayikh Pesantren Tebuireng, Rabu (17/12/2025) malam.

Di hadapan ribuan jamaah dan tokoh yang hadir, cicit Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari ini menyoroti pergeseran orientasi yang dirasakan tengah terjadi di tubuh organisasi PBNU dan kaum santri saat ini. Gus Kikin secara terbuka menyebut adanya degradasi nilai atau “turun derajat” dari tujuan awal organisasi.

“Saya pikir dulu itu organisasi keagamaan, ini taqarrub ilallah, mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa,” ujar Gus Kikin membuka refleksinya.

Namun, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur tersebut melanjutkan dengan sentilan yang menohok realitas saat ini.

“Nah ini kita sekarang ini rasanya itu kita lebih mendekatkan diri kepada yang sedang berkuasa. Turun derajat kita,” ucapnya yang disambut perhatian penuh para hadirin.