Uji Nyali Satgas PHK Selidiki Perusahaan Sawit Milik Franky Widjaja dan Rachmat Karim yang Diduga Libas Hutan

Iwan Medium.jpeg

Selasa, 27 Januari 2026 – 05:09 WIB

Ilustrasi--Dugaan keterlibatan Sinarmas Group dan Musim Mas Group dalam kerusakan hutan. (Desain: Inilah.com/Bece)

Ilustrasi–Dugaan keterlibatan Sinarmas Group dan Musim Mas Group dalam kerusakan hutan. (Desain: Inilah.com/Bece)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ekonom Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR), Gede Sandra percaya dengan data Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) yang menyebut dugaan keterlibatan kongsi bisnis Sinarmas Group yang dikendalikan Franky Widjaja dengan Musim Mas Group milik Rachmat karim berkontribusi terhadap kerusakan hutan di Aceh.

Sehingga memicu bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar) yang menewaskan sekitar 1.198 jiwa dan 144 orang hilang. Khusus Aceh, korban meninggalnya terbanyak yakni 559 orang. Disusul Sumut sebanyak 375 orang, dan Sumbar sebanyak 264 orang.

Untuk itu, kata Gede, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas) yang dipimpin Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin perlu mengambil langkah-langkah tegas, sesuai aturan perundang-undangan. “Tentu Satgas PKH harus masuk dan menyita lahan bila memang kedua perusahaan (Sinarmas Group dan Musim Mas Group) itu, terbukti merusak hutan,” tegas Gede, Jakarta, Senin (26/1/2026).

Masih kata Gede, pemerintah perlu memastikan bahwa proses penanganan temuan Jatam itu, harus dilakukan secara transparan dan menjunjung tinggi keadilan. Karena menyangkut ribuan nyawa yang menjadi korban bencana Sumatera.

“Akan tetapi yang juga seharusnya dilakukan pemerintah adalah memastikan secara transparan proses penyitaan tanah-tanah tersebut. Termasuk skema pengelolaan, dan pendistribusian (lahan sitaan) ke pihak yang membutuhkan. Dalam hal ini reforma agraria harus dijalankan,” ungkapnya.

Gede benar. Suka atau tidak, Keluarga Widjaja dengan Sinarmas Groupnya bisa menumpuk kekayaan hingga US$18,9 miliar atau sekitar Rp300 triliun pada awal 2025, karena bisnis sawit.

Di mana, Sinarmas Group melalui Golden Agri Resources (GAR), menjadi pengelola sawit terbesar dengan lahan perkebunan sawit seluas 536.000 hektare.

Sedangkan Bachtiar Karim yang dikenal sebagai generasi kedua Keluarga Karim, memiliki kekayaan US$4,1 miliar atau sekitar Rp60 triliun) pada 2025 pun dari sawit.

Lewat Musim Mas Group, dia memiliki kebun sawit seluas 120.000 hektare. “Di sisi lain, banyak petani kita masih miskin karena tak lahannya cuman seuprit. Ini jelas ketimpangan lahan yang menjadi PR pemerintah,” ungkapnya.

Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Partai NasDem, Rajiv berjanji akan mengecek temuan Jatam itu. “Nanti kami komisi IV akan mengecek,” ucap Rajiv kepada Inilah.com di Jakarta, Sabtu (24/1/2026).

Terkait sanksi yang mesti dikenakan kepada dua korporasi besar itu, Rajiv hanya menyebut, ikuti aturan yang berlaku. “(Sanksinya) sesuai aturan yang berlaku,” pungkasnya.

Sebelumnya, Koordinator Nasional (Kornas) Jatam Melky Nahar menyebut kongsi bisnis sawit antara Sinarmas Group dengan Musim Mas Group yang kini dikendalikan Bachtiar Karim. diduga kuat berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan di Aceh.

Kolaborasi bisnis ini, diduga menjadi biang kerok banjir bandang dan longsor yang menewaskan sedikitnya 1.200 jiwa. Dalam laporan bertajuk Katastrofe Sumatera: Jejak Oligarki di Hulu DAS dan Zona Rawan Bencana, Jakarta, Kamis (22/1/2026), Jatam menguliti bisnis sawit Sinarmas Group yang saat ini dikendalikan Franky Widjaja.

Kongsi Bisnis Sawit

Koordinator Nasional (Kornas) Jatam, Melky Nahar menyebut, kongsi bisnis sawit antara Sinarmas Group dengan Musim Mas Group, diduga kuat berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan di Aceh.

Dalam laporan bertajuk Katastrofe Sumatera: Jejak Oligarki di Hulu DAS dan Zona Rawan Bencana, Jakarta, Kamis (22/1/2026), Jatam menguliti bisnis sawit Sinarmas Group yang saat ini dikendalikan Franky Widjaja. Di mana, ada keterhubungan rantai pasok sawit dari beberapa lokasi di Aceh, lewat Golden Agri-Resources (GAR), yang membawahi PT SMART Tbk.

“Kita sudah cek, Golden Agri Gesources (GAR) adalah pilar sawit dari Sinarmas Group. Mereka beli sawit berupa tandan buah segar dari perusahaan perusak hutan di Aceh. Termasuk dari Musim Mas Group,” ungkap Melky.

Pola hubungan ini, antara lain terlihat dari pernyataan resmi di situs PT SMART Tbk yang menyebut adanya keterkaitan rantai pasok dengan Perkumpulan Sejahtera Pelita Nusantara (PSPN), sebuah kelompok petani swadaya beranggotakan sekitar 270 petani di Aceh Utara.

Sinarmas Group. melalui GAR dan PT SMART, misalnya, tercatat memiliki keterhubungan rantai pasok sawit di Aceh, termasuk wilayah sekitar Kawasan Ekosistem Leuser dan Rawa Singkil yang berulang kali dikaitkan dengan deforestasi dan banjir.

“Lalu, ada Musim Mas Group yang beroperasi di Aceh Tamiang, Aceh Singkil, Aceh Timur, dan Subulussalam, wilayah yang terdampak banjir sangat parah di Aceh,” ungkapnya.