Punya Modal Rp100 Triliun, Benarkah Danantara Bakal ‘Hidupkan’ Kembali Sritex?

Iwan Medium.jpeg

Jumat, 16 Januari 2026 – 21:18 WIB

PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), salah satu perusahaan yang belum lama ini dinyatakan pailit. (Foto: Dinas Sosial Pemerintah Kabupaten Bojonegoro)

PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), salah satu perusahaan yang belum lama ini dinyatakan pailit. (Foto: Dinas Sosial Pemerintah Kabupaten Bojonegoro)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pemerintah mengkaji dana segar yang bakal digelontorkan ke industri tekstil dan produk tekstil (TPT) paa tahun ini. Tujuan untuk memperkuat industri TPT nasional yang saat ini diamuk PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

CEO Danantara Indonesia, Rosan P Roeslani, mengatakan, pihaknya memiliki kriteria khusus dalam berinvestasi. Termasuk saat menggelontorkan suntikan dana kepada industri TPT nasional. “Tentu kami ada kriteria-kriteria atau parameter-parameter yang harus kami penuhi dalam berinvestasi. Kami masih melihat opsi-opsi dalam kebijakan ini,” kata Rosan di Jakarta, dikutip Jumat (16/1/2026).

Asal tahu saja, suntikan dana US$6 miliar, atau sekitar Rp100 triliun akan dieksekusi Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara Indonesia atau Danantara Indonesia.

Tersiar adanya dua opsi yang sedang dikaji, yakni penyaluran kredit atau membangun perusahaan pelat merah baru. Salah satunya adalah akuisisi aset bekas PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL), atau Sritex.

Saat ini, Tim Kurator Sritex memutuskan seluruh tanah, bangunan, mesin, dan peralatan milik Sritex disewakan dengan total nilai Rp 326,86 miliar per tahun.

Rosan mengaku terbuka dalam mempelajari opsi akuisisi aset tersebut walaupun harus mengelola aset bermasalah. Sebab, salah satu pertimbangan utama Danantra adalah jumlah lapangan pekerjaan dan peluang pasar tekstil di dalam dan luar negeri.

Dia belum menjelaskan lebih lanjut terkait opsi suntikan dana segara ke industri tekstil senilai Rp100 triliun tersebut.

Sebelumnya, kedua opsi itu diumumkan Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto. Dikatakan, pemerintah menyiapkan dana senilai US$6 miliar khusus industri padat karya.

Salah satu tujuan penggunaan dana segar tersebut adalah untuk meningkatkan teknologi dan memperbaiki iklim investasi di industri TPT.

Program tersebut ditetapkan setelah melihat proyeksi konsumsi TPT global yang terus tumbuh. “Dunia ini isinya 8 miliar orang, dan semuanya pakai baju. Selain itu, 8 miliar orang juga pakai sepatu, jadi industrinya aman,” kata Menko Airlangga, Selasa (13/1).

Dia menyampaikan, pemerintah akan membentuk badan usaha milik negara (BUMN) baru khusus sektor tekstil. Rencana tersebut adalah arahan Presiden Prabowo Subianto saat rapat di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (11/1).  

Kata Menko Airlangga, pembentukan BUMN tekstil dan garmen dinilai menjadi garda terdepan dalam menghadapi risiko kebijakan tarif AS. Pembentukan BUMN ini akan langsung ditangani oleh Danantara. “Akan membentuk BUMN baru khusus tekstil. Tidak menghidupkan (perusahaan tekstil lama),” kata Menko Airlangga.