Kiamat Mobil Murah di AS: Harga Semakin Melambung, Cicilan Kian Melilit

Ikhsan Medium.jpeg

Senin, 11 Mei 2026 – 03:33 WIB

Ilustrasi diler mobil Ford di Savannah, Georgia, AS. (Foto: JC Lewis Ford)

Ilustrasi diler mobil Ford di Savannah, Georgia, AS. (Foto: JC Lewis Ford)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Era mobil murah di Amerika Serikat (AS) resmi berakhir. Dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, harga kendaraan di Negeri Paman Sam melambung tinggi, memaksa warga menanggung beban utang kolektif yang menyentuh angka fantastis: US$1,68 triliun pada 2025.

Laporan terbaru dari The Century Foundation and Protect Borrowers menunjukkan kenaikan beban utang otomotif ini melonjak 37 persen dibandingkan tahun 2018 yang kala itu ‘hanya’ US$1,23 triliun. Mobil kini bukan lagi sekadar alat transportasi bagi warga AS, melainkan beban finansial yang kian berat.

Harga Rata-rata Melambung Tajam

Berdasarkan analisis data industri, rata-rata harga mobil baru di AS kini bertengger di atas US$49.000 atau setara Rp851,5 juta. Angka ini naik drastis jika dibandingkan satu dekade lalu, di mana harga mobil masih berada di kisaran US$35.000 hingga US$37.000 (sekitar Rp608 juta hingga Rp642 juta).

Direktur Wawasan Edmunds, Ivan Drury, menegaskan bahwa faktor utama yang mencekik konsumen adalah hilangnya opsi mobil murah di pasaran.

“Hampir pasti tidak ada lagi kendaraan baru yang dijual di bawah US$20.000 (Rp347,5 juta). Pembeli yang tadinya memiliki pilihan di harga terbawah, kini tidak memiliki celah lagi,” ujar Drury, seperti dilaporkan laman Carscoops, Minggu (10/5/2026).

Jebakan Cicilan US$1.000

Kondisi ini memicu fenomena baru: cicilan bulanan yang setara dengan sewa rumah. Data Edmunds mencatat sekitar 20 persen pemilik kendaraan di AS kini harus membayar cicilan di atas US$1.000 (sekitar Rp17,4 juta) per bulan pada kuartal pertama 2026. Jumlah ini meningkat dari 17 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Sean Tucker, Redaktur Pelaksana Kelley Blue Book, menilai ada pergeseran strategi dari produsen kendaraan. Para pabrikan otomotif kini lebih fokus menyasar segmen menengah ke atas.

“Produsen saat ini membidik pembeli dengan penghasilan tinggi yang tidak goyah oleh pandemi atau perang. Saat ini, 43 persen kendaraan baru dibeli oleh mereka yang berpenghasilan US$150.000 (Rp2,5 miliar) ke atas,” jelas Tucker.

Suku Bunga dan Tenor ‘Mencekik’

Kenaikan harga ini semakin diperparah dengan tren suku bunga yang merangkak naik. Pada kuartal pertama 2026, suku bunga rata-rata berada di level 6,9 persen, naik dari 6,7 persen pada akhir 2025.

Bagi mereka dengan skor kredit rendah (di bawah 580), situasinya jauh lebih buruk. Suku bunga bisa menyentuh 18 persen. Sebagai ilustrasi, untuk mobil seharga US$30.000 dengan tenor enam tahun, pembeli harus membayar bunga tambahan sebesar US$14.000 (Rp243,3 juta).

Demi menekan angka cicilan bulanan agar terlihat ‘murah’, banyak konsumen kini terjebak dalam tenor pinjaman yang sangat panjang. Laporan mencatat 22,9 persen mobil baru yang dibeli pada awal 2026 dicicil dengan jangka waktu tujuh tahun ke atas.

Ivan Drury mengingatkan risiko besar di balik tenor panjang ini. “Konsumen berisiko membayar jauh lebih besar daripada harga asli mobil tersebut, sementara nilai aset kendaraannya terus menyusut,” pungkasnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang