Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta, Rabu (6/5/2026). (Foto: Antara/Imamatul Silfia)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai rencana Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa untuk menghidupkan kembali bond stabilization fund (BSF) berpotensi efektif, tetapi juga memiliki keterbatasan.
Menurut Rizal, BSF akan lebih efektif jika difungsikan sebagai bantalan untuk menjaga stabilitas imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) dalam jangka pendek. Pasalnya, kapasitas instrumen ini relatif terbatas sehingga sulit diandalkan ketika tekanan berasal dari faktor fundamental.
Ia mencontohkan, ketika defisit fiskal melebar, beban bunga utang meningkat, rupiah terus melemah, atau kepercayaan investor menurun, BSF tidak cukup kuat menahan tekanan pasar. “Karena pada akhirnya investor tetap melihat kredibilitas fiskal, stabilitas ekonomi, dan arah kebijakan pemerintah,” kata Rizal di Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Rizal juga mengingatkan potensi risiko moral hazard dan distorsi pasar yang perlu diantisipasi agar investor tidak bergantung pada intervensi pemerintah. “Fondasi utamanya tetap memperkuat fiskal, menjaga stabilitas rupiah, dan memperdalam pasar keuangan serta basis investor domestik,” ujarnya.
Meski demikian, Rizal menilai pembentukan BSF tetap relevan di tengah tekanan pasar keuangan saat ini. Nilai tukar rupiah sempat melemah hingga Rp17.400 per dolar AS, sementara yield SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 6,7–7 persen.
Di sisi lain, kepemilikan asing di SBN juga terus menyusut, tersisa sekitar 12,7 persen per April 2026—jauh di bawah posisi beberapa tahun lalu yang sempat melampaui 30 persen. Kondisi ini membuat pasar obligasi domestik semakin sensitif terhadap arus keluar modal (capital outflow) dan gejolak global.
Rizal menjelaskan, BSF dapat berfungsi sebagai shock absorber saat terjadi tekanan jual berlebihan di pasar SBN. Instrumen ini membantu menahan lonjakan yield agar tidak terlalu ekstrem sehingga biaya utang pemerintah tetap terkendali.
“Bahkan hingga April 2026, Bank Indonesia tercatat sudah membeli SBN sekitar Rp111,5 triliun untuk menjaga stabilitas pasar dan rupiah, sehingga kebutuhan instrumen stabilisasi tambahan memang mulai terlihat,” kata Rizal.
Secara terpisah, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, juga menilai pembentukan BSF sebagai langkah positif untuk menjaga stabilitas pasar surat utang negara, terutama saat kondisi pasar keuangan bergejolak dan kapasitas intervensi Bank Indonesia (BI) terbatas.
“Kalau untuk BSF ini boleh saja, menurut saya. Ini bisa menjadi suatu solusi. Jadi tidak hanya BI yang kelihatannya terus-terusan intervensi secara aktif,” kata Myrdal.
Ia menilai BSF efektif digunakan saat terjadi turbulensi kuat di pasar keuangan, sehingga pemerintah dapat meminimalkan dampak aksi jual investor di pasar obligasi dan menjaga stabilitas yield SBN.
Namun, Myrdal mengingatkan efektivitas BSF sangat bergantung pada kapasitas fiskal pemerintah dan ketersediaan dana, baik dari saldo anggaran lebih (SAL) maupun sumber lainnya. Jika tekanan pasar tinggi sementara alokasi dana terbatas, intervensi berisiko tidak optimal.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan kapasitas fiskal tetap terjaga agar inisiatif BSF tidak justru membebani keuangan negara. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi pemerintah dengan BI dan otoritas lain dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana mengaktifkan kembali bond stabilization fund guna menjaga stabilitas pasar surat utang dan meredam gejolak yang dipicu investor asing.
Langkah tersebut diharapkan dapat menahan tekanan di pasar keuangan domestik sekaligus membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dana BSF akan digunakan untuk menstabilkan pasar obligasi melalui pembelian kembali (buyback) SBN di pasar sekunder yang dilepas investor.
Strategi ini bertujuan menjaga yield SBN tetap stabil, sehingga investor asing tidak mengalami kerugian modal (capital loss).
Purbaya juga menyebut BSF dapat melibatkan berbagai sumber pendanaan dari lembaga di bawah Kementerian Keuangan, termasuk special mission vehicle (SMV).
“Kalau fund betulan kan, desain lamanya itu ada beberapa lembaga yang terlibat, antara lain Kementerian Keuangan dan seluruh SMV yang di bawah Kementerian Keuangan, itu bisa ikut membantu ketika kita melakukan stabilisasi harga bond. Itu utamanya. Jadi, bukan SAL saja,” kata Purbaya dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Kamis (7/5).
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













