PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatatkan kinerja positif sepanjang kuartal I 2026. Capaian ini diraih di tengah tekanan global yang dipicu ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada fluktuasi harga minyak, inflasi, hingga arah kebijakan suku bunga global.
Di dalam negeri, kondisi ekonomi dinilai tetap terjaga berkat kombinasi kebijakan moneter dan fiskal yang menjadi penopang stabilitas. Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) berada pada level yang dinilai seimbang untuk menjaga pertumbuhan sekaligus stabilitas, disertai kebijakan menjaga nilai tukar rupiah.
Dari sisi fiskal, pemerintah menggelontorkan berbagai stimulus seperti bantuan sosial, subsidi energi, serta dukungan terhadap sektor usaha guna menjaga daya beli masyarakat. Belanja produktif juga terus didorong untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi dan daya saing nasional.
Di tengah dinamika tersebut, industri perbankan tetap memainkan peran penting sebagai motor penggerak ekonomi. BNI pun optimistis dengan kekuatan fundamental yang dimiliki, mulai dari permodalan, likuiditas, hingga kualitas aset yang dinilai tetap terjaga.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyebut kinerja yang dicapai mencerminkan daya tahan model bisnis perseroan.
“BNI terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam pengelolaan risiko di tengah dinamika global yang penuh tantangan,” ujar Putrama.
Sebagai bagian dari penguatan permodalan, BNI menerbitkan instrumen Additional Tier-1 (AT1) senilai USD700 juta atau sekitar Rp11,9 triliun pada April 2026. Langkah ini diambil untuk memperkuat kapasitas menghadapi risiko sekaligus membuka ruang ekspansi bisnis ke depan.
Transformasi BRAVE Dorong Kinerja Cabang
Sejalan dengan strategi bisnis, BNI menjalankan transformasi melalui inisiatif BRAVE (Branch, Region, Area, Value, Empowerment). Program ini difokuskan pada penguatan peran jaringan hingga level cabang sebagai ujung tombak bisnis.
Transformasi yang mulai berjalan sejak kuartal IV 2025 ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan efektivitas operasional, dengan pendekatan berbasis wilayah dan potensi pasar.
Sekitar enam bulan setelah implementasi, BNI mencatat pertumbuhan bisnis yang melampaui rata-rata industri. Hingga Maret 2026, kredit tumbuh 20,1% secara tahunan (year on year/YoY), didukung oleh pertumbuhan dana murah (CASA) sebesar 26,6% YoY.
Pertumbuhan tersebut turut menjaga efisiensi biaya dana di tengah kompetisi likuiditas yang ketat.
Peran BNI dalam Program Strategis Nasional
BNI juga menegaskan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Dukungan difokuskan pada sektor prioritas seperti pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, serta penguatan ekonomi desa.
Kontribusi tersebut diwujudkan melalui pembiayaan, layanan keuangan, serta digitalisasi layanan. Dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), BNI menghadirkan solusi transaksi digital melalui Virtual Account dan BNIdirect.
Sementara dalam Program Sekolah Rakyat, BNI menyediakan layanan perbankan digital terintegrasi, termasuk pembukaan rekening bagi siswa dan tenaga pendidik, serta penguatan ekosistem keuangan melalui Agen46.
Di sektor perumahan, BNI turut berpartisipasi dalam Program 3 Juta Rumah melalui penyaluran KPR FLPP. Dukungan terhadap UMKM, koperasi, dan desa juga terus diperkuat melalui berbagai skema pembiayaan.
“BNI akan terus hadir sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, sekaligus memperkuat peran dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” tegas Putrama.
Kinerja Keuangan Ditopang CASA dan Digitalisasi
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan pertumbuhan kinerja keuangan perseroan ditopang oleh penguatan dana murah (CASA).
Hingga Maret 2026, CASA tumbuh 26,6% YoY menjadi Rp731,6 triliun, dengan kontribusi utama dari giro yang tumbuh 39,7% dan tabungan 10,4%.
Penguatan CASA turut meningkatkan efisiensi biaya dana serta mendorong ekspansi kredit yang tumbuh 20,1% YoY menjadi Rp919,3 triliun.
Platform digital menjadi salah satu pendorong utama. Aplikasi wondr by BNI mencatat lebih dari 13 juta pengguna, sementara BNIdirect tumbuh dari sisi pengguna dan nilai transaksi lebih dari 16% YoY.
Kinerja tersebut berdampak pada pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 12,1% YoY dan pendapatan non-bunga sebesar 12,6%. Pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) tercatat Rp9,3 triliun.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) membaik menjadi 1,9%, dengan Loan at Risk di level 8,6% dan biaya kredit (credit cost) sebesar 1,1%.
Laba bersih BNI hingga kuartal I 2026 tercatat sebesar Rp5,6 triliun, dengan rasio permodalan tetap kuat, tercermin dari LDR 83,5% dan KPMM 18,5%.
“Kinerja ini menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan pengelolaan risiko yang disiplin,” tutur Paolo.
Perkuat Modal Lewat AT1 dan Dorong Keuangan Berkelanjutan
Paolo menambahkan, penerbitan AT1 pada April 2026 mendapat respons positif dari investor global dengan permintaan mencapai lebih dari USD2,5 miliar atau oversubscribe 3,6 kali.
Instrumen ini diterbitkan di pasar global dan tercatat di Singapore Exchange (SGX), sebagai bagian dari strategi optimalisasi struktur permodalan.
Di sisi lain, BNI juga terus memperkuat komitmen terhadap keuangan berkelanjutan. Direktur Risk Management BNI David Pirzada menyebut perseroan mengintegrasikan prinsip ESG dalam strategi bisnis.
“BNI berkomitmen untuk terus memperluas pembiayaan berkelanjutan sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam mendukung transisi menuju ekonomi hijau,” kata David.
BNI sebelumnya telah menerbitkan Sustainability Bond Rp5 triliun pada 2025 dan Green Bond Rp5 triliun pada 2021. Dana tersebut digunakan untuk pembiayaan proyek yang berwawasan lingkungan dan sosial.
Selain itu, pembiayaan berkelanjutan juga diperluas melalui skema Sustainability Linked Loan (SLL) dan green financing guna mendukung target Net Zero Emission 2060.













