Grup Djarum yang selama ini dikenal kuat di industri rokok kini mulai melirik bisnis pangan yang dinilai lebih menjanjikan dalam jangka panjang. Jangan kaget, suatu saat pasar akan dipenuhi susu segar produksi Grup Djarum.
Melalui PT Global Dairi Alami dan PT Global Dairi Bersama, Grup Djarum berencana membangun peternakan sapi perah raksasa di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Luas mega farm tersebut mencapai 710 hektare dengan kapasitas hingga 36.000 ekor sapi perah.
Akun YouTube @PintuKabar turut mengulas langkah bisnis Grup Djarum tersebut. Jika terealisasi, mega farm itu berpotensi menjadi peternakan sapi perah terbesar di Indonesia.
Direktur Jenderal (Dirjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Suganda, sebelumnya pernah mengungkapkan bahwa peternakan terbesar dalam satu hamparan saat ini menampung sekitar 20.000 ekor sapi. Jumlah sapi di mega farm milik Djarum hampir dua kali lipat lebih besar.
Nantinya, mega farm ini dibangun dengan kapasitas produksi mencapai 180 ribu ton susu segar per tahun, atau setara 18 persen dari target produksi susu segar nasional.
Grup Djarum akan menerapkan model bisnis integrated farm to glass, di mana seluruh rantai pasok dikendalikan secara terintegrasi, mulai dari peternakan hingga produk sampai ke tangan konsumen. Model tersebut dinilai mampu menekan biaya distribusi dan menjaga kualitas produk.
Untuk menjamin ketersediaan pakan, akan dibangun pabrik pakan ternak tersendiri guna memastikan kualitas nutrisi sapi tetap terjaga. Di sisi hilir, fasilitas pengolahan susu juga disiapkan agar kesegaran dan kandungan nutrisi produk tetap optimal.
Yang menarik, Djarum juga akan menerapkan zero waste system dalam proyek tersebut. Kotoran sapi akan diolah menjadi biogas, sementara residu biogas dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Adapun limbah cair akan didaur ulang melalui instalasi pengolahan air.
Untuk pasokan energi, proyek ini juga direncanakan menggunakan panel surya sehingga kebutuhan listrik dapat dipenuhi secara mandiri dan ramah lingkungan.
Intinya, mega farm tersebut bukan sekadar peternakan, melainkan sebuah ekosistem agribisnis terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Mengapa Djarum Tertarik ke Bisnis Susu?
Pertama, pasar susu nasional masih sangat besar dan mengalami defisit kronis. Saat ini, produksi susu segar Indonesia hanya sekitar 1 juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan nasional mencapai 4,7 juta ton per tahun. Artinya, sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi melalui impor.
Defisit sekitar 3,7 juta ton tersebut menjadi peluang bisnis yang sangat besar.
Head of Research Kiiwoom Sekuritas, Liza Camelia, menilai masuknya Grup Djarum ke industri dairy mencerminkan strategi bisnis yang konsisten dengan karakter grup, yakni masuk ke sektor dengan pasar besar, arus kas berulang (recurring income), serta peluang integrasi dari hulu ke hilir.
Kedua, diversifikasi dari bisnis rokok yang terus tertekan. Tekanan terhadap industri rokok akibat kenaikan cukai dan perubahan pola konsumsi membuat Grup Djarum dinilai semakin agresif melakukan diversifikasi usaha.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah, menilai langkah tersebut sebagai strategi derisking portofolio untuk mengurangi ketergantungan terhadap bisnis rokok.
Menurut dia, karakter bisnis susu yang defensif dan berbasis kebutuhan primer dapat menjadi pilar pertumbuhan baru yang lebih stabil dalam jangka panjang.
Ketiga, selaras dengan agenda pemerintah. CEO Savoria Group, Ihsan Mulia Putri, mengatakan investasi ini merupakan bentuk dukungan terhadap program prioritas Presiden, khususnya percepatan produksi susu dan daging nasional.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, juga menegaskan bahwa RPJMD Jawa Tengah 2026 fokus pada swasembada pangan, termasuk susu, sehingga investasi seperti ini dinilai sangat strategis.
Dengan kata lain, Djarum masuk pada momentum yang tepat: ada dukungan pemerintah, pasar yang besar, dan kebutuhan nasional yang mendesak.
Keempat, pemilihan lokasi yang dinilai strategis. Mengapa Brebes? Wilayah ini dekat dengan sentra produksi jagung sebagai bahan utama pakan ternak. Selain itu, aksesnya relatif dekat ke pasar susu terbesar di Indonesia, yakni Jabodetabek.
Di sisi lain, kondisi sosial masyarakat Brebes yang mayoritas bergerak di sektor pertanian dinilai mendukung pengembangan peternakan modern berbasis agribisnis.
Dampak Mega Farm bagi Ekonomi
Pertama, pemberdayaan ekonomi lokal. Proyek ini disebut akan melibatkan lebih dari 5.000 petani dan 8.000 peternak lokal. Ribuan lapangan kerja baru diperkirakan tercipta bagi masyarakat Brebes dan sekitarnya.
Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, menyambut proyek tersebut sebagai kebanggaan sekaligus solusi nyata pengentasan kemiskinan.
Kedua, mengerek posisi Jawa Tengah sebagai produsen susu nasional. Saat ini, Jawa Tengah berada di posisi ketiga produsen susu nasional setelah Jawa Timur dan Jawa Barat.
Dengan tambahan produksi dari mega farm tersebut, Gubernur Luthfi optimistis Jawa Tengah dapat naik ke posisi kedua, bahkan mendekati Jawa Timur.
Ketiga, mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah telah memastikan program MBG akan menjadi pasar utama bagi peternakan dalam negeri.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, mengatakan program MBG bukan hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga menciptakan pasar yang jelas bagi peternak. “Ini peluang besar,” ujarnya.
Keempat, efisiensi rantai pasok dan penurunan harga susu. Selama ini, industri susu nasional terkendala biaya logistik tinggi dan rantai distribusi yang panjang.
Melalui strategi farm to glass, Djarum berupaya memangkas banyak mata rantai distribusi sehingga biaya dapat ditekan secara signifikan. Jika berhasil, harga susu di tingkat konsumen berpotensi menjadi lebih terjangkau.
Tantangan Besar Masih Mengadang
Meski menjanjikan, proyek ini juga menghadapi tantangan besar. Ihsan Mulia Putri mengakui industri sapi perah modern di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari fluktuasi harga pakan, keterbatasan bibit sapi unggul, hingga ancaman penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD).
Pemerintah pusat disebut telah menyiapkan berbagai dukungan, mulai dari penyediaan bibit sapi impor dari Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru, hingga Brasil, serta penguatan sistem kesehatan hewan untuk mencegah wabah.
Dari sisi bisnis, Hari Rachmansyah mengingatkan bahwa periode pengembalian investasi di sektor peternakan cenderung panjang.
Namun, dengan dukungan modal besar dan integrasi ekosistem bisnis yang dimiliki Grup Djarum, mulai dari jaringan distribusi hingga portofolio FMCG, proyek ini dinilai memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi pemain lain.
Arti Mega Farm Djarum bagi Indonesia
Pertama, proyek ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor pangan, khususnya susu dan peternakan, kini menjadi ladang investasi strategis yang dilirik konglomerasi besar.
Kedua, proyek ini menunjukkan bahwa diversifikasi dari industri yang tertekan menuju sektor yang lebih defensif dan berorientasi jangka panjang bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Ketiga, dan yang paling penting, proyek ini berpotensi menjadi titik balik bagi ketahanan pangan nasional.
Jika mega farm beroperasi penuh, kontribusinya yang mencapai 18 persen terhadap target produksi susu nasional dapat membantu mengurangi ketergantungan impor secara signifikan.
Namun, transformasi sektor pangan nasional tidak bisa hanya bergantung pada satu atau dua konglomerasi besar.
Pemerintah tetap harus memastikan investasi besar seperti ini membuka ruang bagi peternak kecil untuk ikut tumbuh dan berkembang, bukan justru tersingkir.
Ihsan Mulia Putri memastikan pihaknya akan menggandeng petani dan peternak rakyat dalam proyek tersebut. Apakah janji itu benar-benar terwujud? Waktu yang akan menjawab.
Saat ini, progres proyek mulai dipetakan. Persiapan lahan dijadwalkan dimulai pada Juni 2026, sementara pembangunan ditargetkan rampung pada akhir 2027.
Jika seluruh rencana berjalan lancar, Kabupaten Brebes berpotensi bertransformasi menjadi pusat produksi susu nasional yang strategis.













