BI: Kredit Bank Masih Longgar, Peluang Ekonomi Meroket Tahun Ini

Iwan Medium.jpeg

Sabtu, 28 Februari 2026 – 20:44 WIB

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti di Bank Indonesia (BI), Jakarta, Jumat (27/2/2026). (Foto: ANTARA/HO-Bank Indonesia/BI)

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti di Bank Indonesia (BI), Jakarta, Jumat (27/2/2026). (Foto: ANTARA/HO-Bank Indonesia/BI)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti mengatakan, kredit pada Desember 2025, tumbuh 9,69 persen secara tahunan (year on year/yoy) ikut menopang pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen sepanjang 2025.

Melihat kinerja itu, lanjut Destry, BI melihat peluang ekonomi Indonesia untuk tumbuh lebih tinggi, masih sangat terbuka. Terlebih, ketersediaan likuiditas perbankan masih cukup memadai.

“Pada Januari 2026, fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) perbankan tercatat sebesar Rp2.506,47 triliun atau 22,65 persen dari plafon kredit yang tersedia dapat terus dioptimalkan sebagai pendorong pertumbuhan lebih tinggi,” jelas Destry di Jakarta, Sabtu (28/2/2026).

Destry bilang, BI selaku bank sentral, mengimbau perbankan untuk terus menyesuaikan special rate guna mendorong penurunan suku bunga kredit, bisa lebih cepat. Sehingga intermediasi atau penyaluran kredit berjalan semakin kuat.

“Ke depan, intermediasi pada 2026 diprakirakan tetap solid dalam kisaran 8–12 persen (yoy), sejalan dengan pertumbuhan kredit Januari 2026 yang mencapai 9,96 persen (yoy),” tambah Destry.

Dia pun menekankan pentingnya sinergi antarotoritas dalam memperkuat kontribusi sistem keuangan nasional terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi BI, bank sentral telah memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang berbasis kinerja dan berorientasi ke depan (forward looking) guna memastikan kecukupan likuiditas dan mempercepat penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas Pemerintah.

Hingga minggu pertama Februari 2026, perbankan telah memperoleh insentif sebesar Rp427,5 triliun.

Destry juga menekankan perlunya sinergi antarlembaga dalam mendorong pertumbuhan kredit dan mempercepat penurunan suku bunga kredit perbankan.

Bauran kebijakan makroprudensial yang akomodatif, termasuk penguatan KLM berorientasi ke depan, diarahkan untuk menyediakan kecukupan likuiditas serta mengakselerasi penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas/

“Sinergi dengan Pemerintah dan otoritas terkait dalam kerangka KSSK menjadi kunci untuk membangun optimisme dan keyakinan bahwa ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih tinggi dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan,” tuturnya.