Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy. (Foto: Antara/Harianto)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan 11 komoditas pangan pokok strategis nasional dalam kondisi aman dan tidak terganggu oleh memanasnya suhu geopolitik di Selat Hormuz, Timur Tengah. Pemerintah menegaskan jalur distribusi pangan Indonesia tetap berada pada zona hijau.
Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, menyatakan bahwa gangguan perdagangan internasional di kawasan tersebut belum memberikan tekanan signifikan terhadap ketahanan pangan domestik. Sejauh ini, proyeksi neraca pangan menunjukkan seluruh komoditas tetap stabil tanpa distorsi.
“Pemerintah memastikan ketersediaan 11 pangan pokok strategis masih aman. Kami belum melihat adanya dampak signifikan terhadap pasokan pangan nasional,” ujar Sarwo saat menerima kunjungan peserta Sespimti Polri di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Jalur Impor Aman dari Konflik
Kepercayaan diri pemerintah bukan tanpa alasan. Meski Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas, sumber pasokan tersebut tidak melewati Selat Hormuz. Sarwo merinci bahwa kedelai didatangkan dari Amerika Serikat, daging kerbau dari India, sapi dari Australia, dan bawang putih dari China.
Karena sumber impor berasal dari negara yang tidak terdampak konflik di kawasan Timur Tengah, jalur logistiknya pun dipastikan terhindar dari hambatan. Hingga Juni 2026, 11 pangan pokok strategis diproyeksikan tetap surplus.
“Jalur distribusi tidak melalui Selat Hormuz sehingga pengaruhnya sangat kecil bagi kita,” imbuhnya.
Harga Pangan Mulai Melandai
Stabilitas pasokan ini juga tercermin pada Indeks Perkembangan Harga (IPH) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mencatat tren penurunan harga yang menggembirakan sejak awal April 2026.
Data BPS menunjukkan jumlah provinsi yang mengalami kenaikan IPH menyusut dari 22 provinsi pada awal bulan menjadi hanya 13 provinsi pada minggu keempat April. Penurunan serupa terjadi di tingkat kabupaten dan kota, dari 160 daerah menjadi 126 daerah.
Indonesia Masih Status Swasembada
Di sisi lain, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap pangan luar negeri sangat kecil. Dengan total produksi nasional mencapai 73 juta ton, porsi impor hanya sekitar 3,5 juta ton atau sekitar 4,8 persen.
Sesuai standar Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), negara masih dikategorikan swasembada jika impor berada di bawah batas maksimal 10 persen.
Adapun 11 komoditas strategis yang terus dipantau pemerintah meliputi beras, jagung pakan, cabai rawit, cabai besar, daging ayam, telur ayam, bawang merah, gula konsumsi, kedelai, bawang putih, serta daging sapi dan kerbau. Dengan produksi tahunan mencapai 73,7 juta ton, Indonesia optimistis mampu menghadapi gejolak global tanpa harus mengorbankan isi piring rakyat.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













