Akhir Pahit Tim Thomas Indonesia, Saatnya PBSI Berbenah

Ibnu Medium.jpeg

Rabu, 29 April 2026 – 07:52 WIB

Tunggal putra Indonesia Jonatan Christie menampakkan ekspresi kecewa setelah kalah dramatis kalah dari Christo Popov 19-21, 14-21 dalam laga Grup D Piala Thomas 2026 di Forum Horsens, Denmark.(Foto PBSI)

Tunggal putra Indonesia Jonatan Christie menampakkan ekspresi kecewa setelah kalah dramatis kalah dari Christo Popov 19-21, 14-21 dalam laga Grup D Piala Thomas 2026 di Forum Horsens, Denmark.(Foto PBSI)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sejarah panjang nan gemilang Tim Thomas Indonesia ternoda di Forum Horsens. Untuk pertama kalinya sejak format penyisihan grup diberlakukan pada 1984, Tim Garuda gagal lolos dari fase grup Piala Thomas. Sang juara 14 kali itu pulang lebih awal usai dilibas Prancis 1-4 di laga penentu Grup D, Selasa atau Rabu (29/4/2026) dini hari WIB.

Padahal, syaratnya tergolong ringan. Indonesia hanya butuh memenangi dua dari lima partai—atau bahkan kalah 2-3—untuk menyegel tiket perempat final. Sayangnya, target itu meleset jauh. Hanya Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri yang sanggup menyumbang poin, sementara empat partai lain berakhir dengan kekalahan.

Klasemen Akhir Berbalik 180 Derajat

Kombinasi hasil malam itu membuat klasemen Grup D berputar drastis. Thailand menyapu Aljazair 5-0, sehingga ketiga tim—Thailand, Prancis, Indonesia—sama-sama mengoleksi dua kemenangan. Selisih partai pun jadi penentu, dan Indonesia harus pasrah finis di urutan ketiga, terdepak dari turnamen.

Thailand keluar sebagai juara grup, disusul Prancis di posisi runner-up. Hasil ini sekaligus menjadi pukulan telak bagi Indonesia, mengingat hasil terburuk Tim Merah Putih sebelumnya hanya tersingkir di perempat final Piala Thomas 2012 di Wuhan.

Drama Tiga Gim Ginting, Match Point Lepas

Pertandingan Indonesia vs Prancis sebenarnya sempat menyajikan momen-momen menggetarkan. Drama paling menyayat datang dari partai ketiga, ketika Anthony Sinisuka Ginting ditantang Toma Junior Popov.

Selama 1 jam 25 menit, Ginting tampil menggebrak. Ia memenangi gim pertama 22-20, sebelum Toma membalas 21-15 di gim kedua. Di gim penentu, Ginting bahkan sempat unggul jauh 12-6 dan memegang match point di kedudukan 20-19. Sayangnya, match point itu lenyap. Ginting takluk dengan skor 20-22.

“Persiapan melawan Toma dilakukan dengan detail. Namun, ada kendala yang membuat saya kesulitan menjelang akhir gim ketiga, yaitu kaki yang terasa sedikit keram,” ujar Ginting dalam keterangan PP PBSI.

“Tidak banyak pilihan pola permainan yang bisa saya mainkan. Saat dia kembali tenang, saya mulai kesulitan dengan harus banyak berlari mengejar bola,” imbuhnya.

Jojo dan Alwi Tak Berdaya

Sebelum drama Ginting, dua tunggal putra Indonesia lebih dulu tumbang. Jonatan Christie kalah dari Christo Popov 19-21, 14-21 di partai pembuka, disusul Alwi Farhan yang menyerah 16-21, 19-21 dari pemain seangkatannya, Alex Lanier.

Alwi mengakui tekanan menggerogoti permainannya. “Dengan posisi Indonesia yang membutuhkan kemenangan, fakta itu cukup menghantui saya. Saya merasa lebih tertekan,” ujar Alwi.

Andalan Ganda Patah, Tim Prancis Berpesta

Tertinggal 0-3, asa Indonesia bertumpu pada nomor ganda yang selama ini menjadi tulang punggung. Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani turun di partai keempat dengan misi do or die.

Sayangnya, ganda yang sebelumnya selalu menang dalam dua pertemuan dengan Eloi Adam/Leo Rossi itu justru tumbang dengan skor identik 19-21, 19-21. Poin terakhir bahkan datang dari kesalahan servis Reza pada kedudukan 19-20. Tim Prancis langsung berpesta di lapangan dengan memeluk Adam/Rossi setelah memastikan kemenangan 4-0.

“Kami sudah mencoba yang terbaik, tetapi Prancis bermain sangat baik. Mereka percaya diri karena sudah menang di tiga pertandingan awal. Sebaliknya, kami tidak bisa mengontrol tekanan itu,” tutur Sabar yang baru kali ini bermain di Piala Thomas.

Tangis Fajar/Fikri Tak Bermakna

Di partai kelima, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri turun ke lapangan dengan air mata membasahi pipi Fajar. Pemandangan menyayat hati itu seakan menjadi simbol nasib Tim Garuda malam itu.

Meski demikian, FajRi—sapaan akrab pasangan ini—berjuang habis-habisan dan sukses menumbangkan duet Popov bersaudara, Christo/Toma Junior, lewat rubber game 21-18, 19-21, 21-11. Sayang, kemenangan tersebut hanya menjadi penyelamat muka—skor akhir 1-4 sudah cukup mengubur mimpi Indonesia.

Akhir Era Dominasi dan Tugas Berat PBSI

Tersingkir di fase grup adalah sejarah baru yang menyakitkan bagi Indonesia. Negara dengan koleksi 14 trofi Thomas Cup—paling banyak di dunia, dengan gelar terakhir di Aarhus 2020—kini harus menerima predikat sebagai gugur paling cepat sepanjang keikutsertaannya.

Setelah dominasi 2020, Indonesia memang melaju ke final pada 2022 (kalah dari India) dan 2024 (kalah dari China). Namun pada 2026, Tim Garuda bahkan tak sanggup lolos fase grup. Kekuatan baru Eropa—Prancis, dengan tiga pemain tunggal di peringkat 20 besar dunia (dua di antaranya top 10)—berhasil membuktikan diri sebagai kuda hitam yang patut diperhitungkan.

Tugas berat kini menanti PP PBSI. Regenerasi pemain, pengelolaan tekanan mental tim, hingga strategi turnamen beregu menjadi tiga pekerjaan rumah utama yang harus segera dibenahi sebelum Piala Thomas edisi berikutnya. (*)

Hasil Lengkap Indonesia vs Prancis di Piala Thomas 2026

  1. MS1: Jonatan Christie vs Christo Popov: 19-21, 14-21 (0-1)
  2. MS2: Alwi Farhan vs Alex Lanier: 16-21, 19-21 (0-2)
  3. MS3: Anthony Sinisuka Ginting vs Toma Junior Popov: 22-20, 15-21, 20-22 (0-3)
  4. MD1: Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani vs Eloi Adam/Leo Rossi: 19-21, 19-21 (0-4)
  5. MD2: Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri vs Christo Popov/Toma Junior Popov: 21-18, 19-21, 21-11 (1-4)

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang