Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono. (Foto: Dok. Kementan)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pernyataan sutradara film dokumenter ‘Pesta Babi’, Dandhy Laksono menyebut proyek ketahanan pangan di Wanam, Papua Selatan melibas hutan seluas 2,5 juta hektare, menjadi viral di media sosial (medsos).
Selanjutnya, Dandhy menyebut, program cetak sawah sejuta hektare yang masuk Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua, merupakan deforestasi terbesar di dunia.
Namun, informasi itu dibantah Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono. “Lagi ramai apa itu? Video Pesta Babi, iya. Seolah-olah, kita ini, datang cetak sawah, kemudian bikin rakyat di situ sengsara. Itu salah,” kata Sudaryono dalam unggahan akun media sosial TikTok pribadinya, dikutip Kamis (4/6/2026)
Menurut Mas Dar, sapaan akrabnya, pembangunan sawah baru tidak bisa langsung menghasilkan lahan produktif dalam sekejap. Dibutuhkan proses panjang, mulai dari penataan lahan hingga pengelolaan sumber air, sebelum lahan tersebut bisa ditanami secara optimal.
Selanjutnya dia mencontohkan program cetak sawah dan optimalisasi lahan rawa di Kalimantan Tengah. Luasnya mencapai 51.000 hektare. Kawasan yang sebelumnya berupa rawa, dan tidak dapat dimanfaatkan untuk pertanian, kini berubah total. Karena lahannya sudah bisa ditanami.
Ia juga menyinggung proyek cetak sawah di Wanam, Papua Selatan. Pada dasarnya, wilayah tersebut merupakan kawasan rawa yang memiliki ketersediaan air melimpah. Sehingga dinilai cocok untuk pengembangan pertanian.
“Daerah berawa kalaupun ada pohon, pohonnya itu kecil-kecil, gitu loh. Jadi memang menanam padi itu yang susah bukan bibitnya,” ujarnya menambahkan.
Masih kata Sudaryono, tantangan utama dalam budidaya padi bukan terletak pada ketersediaan bibit, pupuk maupun pestisida, melainkan keberadaan air yang cukup. “Bibit bisa kita ciptakan, pupuk bisa kita ciptakan, air itu tidak bisa kita ciptakan, hanya bisa kita kelola,” jelas Sudaryono.
Karena itu, pemerintah memprioritaskan pengembangan lahan pangan di daerah-daerah yang memiliki sumber daya air memadai.
Sebagai contoh, Sudaryono menyebut kawasan Kurik di Merauke yang awalnya berupa rawa, kemudian dikembangkan menjadi area persawahan.
Seiring berjalannya waktu, produktivitas lahan tersebut terus meningkat. “Dulunya rawa. Nah ini kemudian kita cetak sawah. Tadinya orang tidak bersawah di situ jadi bersawah,” jelas dia
Menurut Sudaryono, lahan yang sebelumnya hanya memungkinkan satu kali masa tanam, kini mampu tiga kali tanam dalam setahun. Dengan peningkatan frekuensi panen dan produksi padi, sejahtera pula warga sekitar. “Sekarang sudah panen tiga kali karena menanamnya tiga kali,” sambungnya.
Dari paparan itu, sulit dipercaya bahwa program cetak sawah adalah biang kerok kerusakan hutan. Karena itu tadi, lahan yang layak dijadikan areal pertanian adalah rawa. Artinya, bukan hutan ditebang untuk disulap jadi sawah. Kalau begitu ceritanya, ya, tidak ada hutan yang dihancurkan saat menjalankan program cetak sawah.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.









