ESDM Patok Tiga Strategi Besar Kejar NZE 2060, Siap Setop Impor Solar via B50

Diana Medium.jpeg

Kamis, 23 April 2026 – 22:56 WIB

Kementerian ESDM siapkan 3 strategi hadapi krisis global: PLTS 100 GW, mandatori B50 untuk setop impor solar, dan efisiensi energi menuju NZE 2060. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)

Kementerian ESDM siapkan 3 strategi hadapi krisis global: PLTS 100 GW, mandatori B50 untuk setop impor solar, dan efisiensi energi menuju NZE 2060. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pemerintah Indonesia kian serius mempercepat peta jalan menuju emisi nol bersih atau Net Zero Emission (NZE) pada 2060. Menghadapi dinamika geopolitik global yang kian kompleks, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi mematok tiga strategi besar untuk menjaga kedaulatan energi sekaligus mengamankan postur fiskal negara.

Kepala Balai Besar Survei dan Pengujian Ketenagalistrikan, Energi Kementerian ESDM, Trois Dilisusendi, menegaskan bahwa elektrifikasi menjadi jantung dari transformasi ini. Menurutnya, elektrifikasi tidak boleh hanya dipandang sebagai urusan kendaraan listrik semata, melainkan harus merambah ke sektor rumah tangga.

“Kita akan terus memastikan bahwa zero emission akan terjadi pada 2060 atau bahkan lebih cepat. Salah satu pilar utamanya adalah elektrifikasi massal, termasuk mengubah pola konsumsi energi masyarakat melalui penggunaan kompor induksi,” ujar Trois dalam diskusi publik bertajuk ‘Energi Tahan, Fiskal Aman: Menuju Elektrifikasi Kendaraan Tanpa Boncos Anggaran’ di Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2026).

Tiga Program Strategis Hadapi Geopolitik

Guna membentengi energi nasional di tengah ketidakpastian global, Trois memaparkan tiga program raksasa yang tengah digulirkan pemerintah.

Pertama, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas masif mencapai 100 Giga Watt (GW). Kedua, percepatan konversi kendaraan listrik yang dibarengi dengan kebijakan mandatori B50.

Ketiga, penguatan efisiensi energi. Trois menekankan bahwa efisiensi adalah investasi yang paling menguntungkan bagi negara. “Sekali kita berbicara efisiensi energi, itu akan jauh lebih murah menghemat 1 GW daripada kita harus menjaga 1 MW,” tegasnya.

Target Setop Impor Solar dan Bioavtur

Di sektor transportasi, Indonesia tercatat telah memimpin dengan implementasi kebijakan B40. Data Kementerian ESDM menunjukkan, pada 2025 saja, penggunaan B40 telah mencapai 14,2 juta kL.

Langkah ini akan terus ditingkatkan melalui kebijakan B50. Strategi ini diproyeksikan menjadi kunci bagi Indonesia untuk berdikari secara energi. “Dengan masuknya B50 nanti, harapannya kita tidak lagi mengimpor solar. Posisi kita akan sangat kuat,” imbuh Trois.

Tak hanya di darat, dekarbonisasi juga merambah sektor dirgantara melalui pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur. Setelah sukses melakukan uji coba pada pesawat militer (2021) dan pesawat komersil (2023), pencapaian terbaru adalah penerbangan maskapai Pelita Air rute Jakarta-Denpasar pada 20 Agustus 2025 yang resmi menggunakan bioavtur berbahan dasar minyak jelantah (used cooking oil).

Penguatan Regulasi dan RUPTL Green

Guna menjamin keberlanjutan program tersebut, pemerintah telah memperkokoh landasan hukum melalui sejumlah regulasi. Di antaranya adalah Permen Hybrid, perubahan Perpres Nomor 112 Tahun 2022, Kepmen Penahapan BBN, hingga revisi PP Nomor 7 Tahun 2017.

Ke depan, melalui RUPTL PLN 2025-2034, pemerintah berkomitmen untuk terus mendorong pembangunan pembangkit energi baru terbarukan (EBT). Fokus utamanya adalah memastikan seluruh pembangkit baru yang dibangun memiliki profil ramah lingkungan (green), demi menjamin keamanan energi nasional di masa depan.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang