Indonesia Kini Capai Swasembada Plus, Ini Penjelasan Kepala Bapanas

Iwan Medium.jpeg

Jumat, 17 April 2026 – 06:09 WIB

Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman. (Foto: Dok. Bapanas RI).

Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman. (Foto: Dok. Bapanas RI).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, menyebut Indonesia saat ini telah memasuki fase swasembada plus.

Istilah tersebut, kata Amran, merujuk pada capaian ketahanan pangan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga menunjukkan kemampuan produksi yang melampaui target awal pemerintah.

“Indonesia saat ini tidak mengimpor beras medium, berarti sudah swasembada sempurna. Kalau ada swasembada plus, ya ini yang kita capai di tahun ini. Karena dicapai hanya dalam waktu satu tahun dari rencana Bapak Presiden empat tahun,” ujar Amran di Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Ia menegaskan, capaian swasembada pangan tersebut merupakan hasil nyata dari peningkatan produksi dalam negeri. Menurutnya, dalam konsep swasembada, suatu negara dianggap mampu memenuhi kebutuhan jika ketergantungan impor berada pada level minimal.

“Presiden kita hebat. Hari ini pangan aman. Beras memang mendominasi konsumsi, lebih dari 50 persen pola makan kita. Telur juga sudah swasembada, daging ayam juga, jagung pakan, bawang merah, dan cabai juga. Minyak goreng kita bahkan menyuplai dunia,” kata Amran.

Ia menjelaskan, dominasi konsumsi beras masyarakat tercermin dalam skor Pola Pangan Harapan (PPH) Indonesia tahun 2025 yang dihitung Bapanas. Hasilnya menunjukkan konsumsi kelompok padi-padian masih di atas 50 persen.

Komposisi lainnya terdiri atas pangan hewani sebesar 12,7 persen, minyak dan lemak 12,4 persen, sayur dan buah 6,8 persen, gula 4 persen, serta sisanya kacang-kacangan, umbi-umbian, dan buah atau biji berminyak.

Amran optimistis ketahanan pangan nasional mampu menghadapi dampak perubahan iklim, termasuk El Nino, berkat kebijakan pemerintah dalam memperkuat sektor pangan.

“Krisis pangan dunia karena El Nino bisa kita hadapi. Negara lain waswas, kita alhamdulillah aman. Kita sudah swasembada protein dan karbohidrat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti peningkatan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog. Stok tersebut kini mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah.

“Alhamdulillah, stok Bulog 4,8 juta ton. Maksimal satu minggu lagi bisa mencapai 5 juta ton. Ini capaian tertinggi yang tidak pernah terjadi sebelumnya,” kata Amran.

Berdasarkan data Bapanas per 16 April, total stok beras Bulog mencapai 4,8 juta ton, terdiri atas CBP sebesar 4,78 juta ton dan komersial 19,9 ribu ton. Realisasi pengadaan setara beras dari produksi dalam negeri juga telah mencapai 2,04 juta ton.

Selain itu, nilai tukar petani (NTP) tanpa perikanan secara nasional sejak Juli 2024 tercatat di atas 120, dengan capaian tertinggi pada Desember 2025 dan Februari 2026 di angka 126,11.

Amran juga menyebut Indonesia telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan utama seperti beras, telur ayam ras, daging ayam ras, dan jagung pakan.

Dalam proyeksi neraca pangan nasional 2025, produksi beras diperkirakan mencapai 34,69 juta ton, lebih tinggi dari kebutuhan konsumsi sebesar 31,16 juta ton, sehingga tidak memerlukan impor.

Untuk daging ayam ras, produksi mencapai 4,29 juta ton dengan konsumsi 4,12 juta ton. Produksi telur ayam ras mencapai 6,54 juta ton, lebih tinggi dari konsumsi 6,47 juta ton, sehingga juga mencatat surplus.

Pada komoditas jagung pakan, produksi tahun 2025 diperkirakan mencapai 16,16 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi sebesar 15,23 juta ton, sehingga dipastikan tanpa impor.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang