Mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Noer Hassan Wirajuda di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026) malam. (Foto: inilah.com/Vonita)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Noer Hassan Wirajuda, melontarkan kritik tajam terhadap agresi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. Ia menegaskan bahwa serangan tersebut adalah tindakan sepihak (unilateral) yang menyalahi aturan karena sama sekali tidak memiliki mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pernyataan tegas ini disampaikan Hassan usai menghadiri undangan jamuan makan malam sekaligus diskusi terbatas dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026) malam.
“Sikap kita jelas. Sesungguhnya kalau kita lihat, perang ini merupakan tindakan sepihak. Ini bukan perang yang dimandatkan oleh PBB,” tegas Hassan kepada wartawan.
Lebih lanjut, diplomat senior ini menyoroti rekam jejak kelam kawasan Teluk yang terus-menerus menjadi arena pertumpahan darah akibat campur tangan asing. Menurut catatan Hassan, konflik AS-Iran ini menandai perang besar ketiga yang meledak di kawasan tersebut hanya dalam kurun waktu tiga dekade terakhir.
Hassan merinci, perang pertama terjadi di era Presiden AS George H.W. Bush saat koalisi internasional melawan pasukan Saddam Hussein pasca-invasi Irak ke Kuwait. Kemudian, perang kedua meletus pada 2003 ketika Presiden George W. Bush menginvasi Irak dengan dalih kepemilikan senjata pemusnah massal.
“Jadi, sungguh tragis memang kawasan ini kembali menjadi lahan perang. Perang-perang besar ini selalu membawa dampak destruktif berskala global, mengingat sumber pasokan minyak dan gas dunia sangat bergantung pada wilayah ini,” paparnya.
Oleh karena itu, Hassan mewanti-wanti Pemerintah Indonesia untuk segera melakukan kalkulasi strategis yang cermat. Ia mendesak negara untuk memitigasi efek domino perang geopolitik ini terhadap kepentingan nasional, khususnya ancaman lonjakan harga di sektor energi.
“Itu yang harus kita berhitung secara matang. Dampaknya terhadap kita (Indonesia) apa, terutama ketersediaan energi,” pungkasnya.











