Ilustrasi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). (Foto: Associated Press/Dita Alangkara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Bisa jadi, tahun 2026 yang bershio ‘kuda api’ adalah tahun apes bagi PT Wijaya Karya Tbk (Persero/WIKA). BUMN karya ini digugat salah satu mitranya yakni PT Abacura Indonesia, karena masih punya utang.
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, dikutip Sabtu (3/1/2026), WIKA mengakui adanya gugatan dari PT Abacurra Indonesia.
Pihak Abacurra menggugat WIKA, terkait sisa kewajiban pembayaran kepada Abacurra, atas tagihan pekerjaan di proyek yang sedang dikerjakan.
Di mana, tagihan dari Abacurra itu terbagi menjadi beberapa tahap pembayaran, total nilainya sebesar Rp1,51 miliar. Atas total tagihan tersebut WIKA baru membayar Rp718,83 juta.
Sekretaris Perusahaan WIKA, Ngatemin menjelaskan, nilai gugatan atas sisa tagihan pekerjaan Rp794,49 juta, dan tidak bersifat material bagi WIKA. “Permohonan PKPU tersebut tidak memiliki dampak terhadap kinerja keuangan maupun kegiatan operasional,” terang Ngatemin.
Adapun perkembangan terkait gugatan PKPU tersebut sampai dengan saat ini sudah berjalan persidangan. Persidangan pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 29 Desember 2025 dengan nomor perkara 406/Pdt.SusPKPU/2025/PN.Niaga.Jkt.Pst.
Ngatemin menambahkan, sidang selanjutnya akan dilaksanakan pada hari Senin tanggal 5 Januari 2026 dengan agenda Pengecekan Legalitas Dokumen.
Dalam upaya penyelesaian atas gugatan PKPU. WIKA mengaku tetap terus melakukan komunikasi dengan PT Abacurra Indonesia dan menjalani proses hukum sesuai ketentuan perundangan yang berlaku.
Informasi saja, laporan keuangan WIKA sepanjang 2025 boleh dibilang merah. Pada kuartal III-2025, misalnya, perusahaan konstruksi pelat merah ini, membukukan rugi bersih Rp3,21 triliun.
Atau seratus delapan puluh derajat dibandingkan kuartal III-2024, WIKA masih cuan Rp741,43 miliar. Disebutkan, meruginya WIKA seiring pendapatan bersih yang longsor 27,54 persen secara tahunan (year on year/yoy), menjadi Rp9,09 triliun dibandingkan kuartal III-2024 sebesar Rp12,54 triliun.
Pendapatan terbesar WIKA dari segmen usaha infrastruktur dan gedung, mengalami anjlok 41,73 persen (yoy), menjadi Rp3,95 triliun. Segmen usaha industri ikut turun 25,36 persen (yoy), menjadi Rp2,63 triliun.
Hingga September 2025, WIKA hanya mampu mengantongi kontrak baru sebesar Rp6,19 triliun, terjun bebas 60,25 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, sebesar Rp15,58 triliun.














