Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melempar tantangan keras bagi siapa pun yang membidik kursi panas direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2026-2030. Syaratnya tidak main-main: jajaran direksi anyar harus memiliki nyali untuk menyapu bersih aksi ‘goreng-menggoreng’ saham yang selama ini meresahkan investor.
Ultimatum ini disampaikan Purbaya usai meresmikan Pembukaan Perdagangan BEI Tahun 2026 di Jakarta, Jumat (2/1/2026). Baginya, integritas pasar modal adalah harga mati jika ingin menarik minat investor ritel maupun institusi lebih luas lagi.
“Yang paling penting adalah mereka punya komitmen kuat untuk membersihkan pasar dari para penggoreng saham yang tidak bertanggung jawab,” tegas Purbaya dalam sesi wawancara cegat.
Prestasi Dulu, Insentif Kemudian
Purbaya juga menyinggung soal janji insentif bagi pasar modal. Namun, mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini menekankan bahwa Kementerian Keuangan tidak akan mengobral fasilitas tanpa bukti nyata di lapangan.
Indikator keberhasilan direksi baru nanti akan diukur dari seberapa berani mereka menindak para mafia pasar.
“Kalau mereka minta insentif, saya akan tanya dulu apa prestasinya. Berapa orang (penggoreng saham) yang sudah ditangkap?” ujar Purbaya dengan nada menyindir.
Optimisme IHSG Tembus 10.000
Di tengah persiapan suksesi kepemimpinan bursa yang puncaknya akan digelar pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Juni 2026 mendatang, Purbaya tetap membawa kabar optimistis. Ia meyakini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) punya nafas panjang untuk menyentuh level 10.000 pada tahun ini.
Keyakinan itu bukan tanpa alasan. Purbaya melihat fondasi ekonomi domestik kian kokoh dengan target pertumbuhan mencapai 6 persen (yoy).
“Kebijakan kita dengan BEI sudah sangat sinkron. Ekonomi akan tumbuh lebih cepat, dan angka 6 persen bukan mustahil dicapai,” tambahnya.
Peta Persaingan Kursi Direksi
Masa jabatan direksi BEI periode 2022-2026 di bawah komando Iman Rachman akan berakhir Juni nanti. Sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bursa kini bersiap melakukan penyaringan paket calon direksi yang harus diusulkan oleh minimal 10 Anggota Bursa (AB).
Berdasarkan POJK 58/2016, empat direksi incumbent masih punya tiket untuk maju kembali satu periode lagi, yakni Iman Rachman (Direktur Utama), Irvan Susandy (Direktur Perdagangan dan Pengaturan AB). Sunandar (Direktur TI dan Manajemen Risiko), dan Jeffrey Hendrik (Direktur Pengembangan)
Sementara itu, tiga nama lainnya yakni I Gede Nyoman Yetna, Kristian Manullang, dan Risa Effennita Rustam dipastikan harus ‘pensiun’ dari jajaran direksi karena sudah menyelesaikan masa pengabdian selama dua periode berturut-turut.











