PDIP: Jangan Mimpi Ekonomi Tumbuh 8 Persen Jika Danantara Hanya Sibuk Kelola BUMN

Iwan Medium.jpeg

Sabtu, 27 Desember 2025 – 22:21 WIB

Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP), Darmadi Durianto. (Foto: Instagram/darmadidurianto).

Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP), Darmadi Durianto. (Foto: Instagram/darmadidurianto).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Terbentuknya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara disingkat BPI Danantara (Danantara Indonesia), cukup krusial dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi tinggi. Tapi, keberadaannya jangan hanya sekadar pengelola BUMN.

“Pembentukan Danantara jangan berhenti sebagai pengelola aset negara (BUMN) semata. Melainkan harus diarahkan sebagai instrumen pencipta pertumbuhan ekonomi baru,” papar anggota Komisi VI DPR dari PDIP, Darmadi Durianto, Jakarta, dikutip Sabtu (27/12/2025).  

Menurut Dewan Pembina Megawati Institute itu, keberhasilan Danantara tidak boleh diukur hanya dari besaran aset yang dikelola atau dividen yang dihasilkan.

“Negara boleh mengelola aset sebesar apa pun, tetapi tanpa keberanian mengubah struktur ekonomi, yang tumbuh hanyalah angka-angka saja. Bukan kemajuan,” ujar Darmadi.

Dikatakan, pengalaman di banyak negara menunjukkan, kepemilikan aset besar tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Faktor penentunya justru terletak pada arah kebijakan dan keberanian politik dalam memanfaatkan aset negara untuk mendorong industrialisasi dan inovasi.

Dia merujuk teori pertumbuhan endogen yang dikembangkan ekonom terkemuka Philippe Aghion dan Peter Howitt, yang dikenal luas sebagai penggagas teori pertumbuhan berbasis inovasi (Schumpeterian growth).

Keduanya menekankan bahwa pertumbuhan jangka panjang, hanya bisa dicapai melalui inovasi berkelanjutan, riset, serta persaingan usaha yang sehat.

“Pandangan tersebut, relevan dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Meski pertumbuhan ekonomi relatif stabil, produktivitas nasional dinilai masih tertinggal,” kata Darmadi.

Darmadi mengatakan, Danantara seharusnya tak berhenti sebagai pengelola aset negara semata, melainkan diarahkan menjadi instrumen pencipta pertumbuhan ekonomi baru.

Misalnya, kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) saat ini, berada di kisaran 18–19 persen. Boleh disebut terjun bebas ketimbang era 1990-an yang kontribusinya di atas 27 persen.

Sementara itu, belanja riset dan pengembangan (R&D) nasional, hanya 0,3 persen dari PDB. Dalam konteks itu, Darmadi menilai posisi Danantara berada di titik penentuan.

“Jika Danantara hanya berfungsi sebagai financial holding atau alat stabilisasi jangka pendek, dampaknya terhadap struktur ekonomi akan sangat terbatas. Namun jika diarahkan sebagai instrumen kebijakan industri aktif, Danantara bisa menjadi pengungkit transformasi ekonomi yang selama ini absen,” bebernya.

Dia mengingatkan, target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang kerap disampaikan pemerintah, mustahil tercapai tanpa perubahan struktural yang mendasar.

“Tanpa Danantara yang berani memaksa inovasi, target pertumbuhan 8 persen bukan mimpi besar, melainkan ilusi yang akan diwariskan dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya,” tegas Darmadi.

Lebih lanjut, Darmadi menyarankan pemerintah untuk meniru jejak sejumlah negara yang berhasil melakukan industrialisasi. Misalnya, Korea Selatan dan Taiwan.