Perjuangan Mbah Siyem Menopang Keluarga dengan Punggung Rentanya

Vonita Medium.jpeg

Sabtu, 27 Desember 2025 – 22:00 WIB

Mbah Siyem (73) buruh gendong yang sehari-harinya mencari nafkah di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. (Foto: Instagram/@kemenpppa)

Mbah Siyem (73) buruh gendong yang sehari-harinya mencari nafkah di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. (Foto: Instagram/@kemenpppa)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Subuh selalu datang lebih awal bagi Mbah Siyem. Saat kebanyakan rumah masih menyimpan hangat, perempuan itu sudah beranjak meninggalkan pintu. Udara desa dingin menggantung rendah, embun menempel di dedaunan, dan langkahnya menyusuri jalan yang belum ramai. Rutinitas yang telah diulang puluhan tahun.

Usianya 73 tahun. Rambutnya memutih. Giginya tak lagi lengkap. Namun Pasar Beringharjo masih memanggilnya setiap hari. Di sanalah ia menggendong barang, dan dari sanalah ia menggendong hidup.

Perjalanan menuju pasar bukan perkara singkat. Dari rumah, ia harus berjalan sekitar empat kilometer menuju jalan besar. Setelah itu, bus menjadi satu-satunya tumpuan.

“Sejak subuh saya berangkat dari rumah, diantar anak saya sampai jalan besar yang jaraknya sekitar 4 kilometer. Setelah itu saya naik bus sampai ke pasar ini,” ujarnya, dikutip dari Akun Instagram @Kemenpppa.

Ongkos bus Rp10 ribu. Jumlah kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi Mbah Siyem, itu modal yang harus kembali dari punggung dan peluh. Dari karung, dus, belanjaan dan apa pun yang masih sanggup ia pikul.

Ia bukan pendatang baru. Sejak 1983, Mbah Siyem telah menjadi bagian dari denyut Pasar Beringharjo. Ia menyaksikan pasar berubah, tumbuh, dan semakin padat. Sementara dirinya pelan-pelan menua.

Mbah Siyem paham betul tubuhnya tak lagi seperti dulu. Tetapi ia juga tahu hidup tak bisa menunggu tubuh siap. Pekerjaan ini tak pernah masuk rencana hidupnya. Dulu ia hanya membantu suami. Setelah suaminya meninggal, beban hidup berpindah sepenuhnya ke pundaknya.

“Saya tidak punya pekerjaan lain. Dulu hanya membantu suami saya. Tapi sekarang suami saya sudah meninggal, jadi sekarang saya mencari nafkah sendiri untuk anak-anak sampai cucu-cucu,” ucapnya sembari tersenyum.

Hasil menggendong tak pernah ia simpan lama. Uang itu dibelikan untuk isi dapur rumah, kebutuhan yang sederhana, tetapi tak bisa ditunda. “Untuk keluarga di rumah. Kalau beras sudah punya sendiri. Kalau ada bumbu, ada sayuran, ada gula, teh, itu saya yang beli,” ujar dia.

Ia mengenal batas tubuhnya. Jika beban terlalu berat, ia tak memaksa. Ia menyerahkannya pada rekan yang lebih kuat. Tantangan terbesarnya bukan ancaman atau tekanan dari luar, melainkan tubuhnya sendiri yang pelan-pelan meminta kompromi. Ia belajar berdamai dengan itu dengan memilih beban, mengatur tenaga, menerima bantuan tanpa merasa kalah.

Sebelum mengenal pasar, hidupnya berputar di rumah. Kini anak-anak tumbuh, memiliki kehidupan sendiri. Perannya berubah, tetapi pengorbanannya tidak pernah benar-benar usai.

Di pasar, ia menemukan rasa aman. Ada yayasan yang menaungi buruh gendong, memastikan mereka diakui sebagai pekerja. Di luar pasar, ia tetap bekerja. Jika di rumah ada pekerjaan tani, ia ikut. Jika tidak, ia kembali ke Beringharjo. “Kalau di rumah ada pekerjaan tani ya mengikuti. Kalau rumah kosong, saya lari ke sini,” tutur dia.

Tak ada kata pensiun dalam hidupnya. Selama kaki masih bisa melangkah, ia akan tetap berangkat subuh. Ketika diminta memberi pesan bagi perempuan-perempuan lain, jawabannya singkat “Jadi ibu-ibu semua tetap semangat bekerja.”

Kisah Mbah Siyem barangkali tak pernah masuk laporan pembangunan atau grafik statistik. Namun dari punggung renta itulah kehidupan terus ditopang. Ia menggendong barang di pasar, sekaligus menggendong hidup dalam diam, sabar, tanpa meminta sorotan.