Bank Syariah Indonesia (BSI) tak bisa layani transaksi perbankan. (Foto: Dok.BSI).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero/BSI) Tbk kembali anjlok usai terungkap ikut membiayai PT Hutani Lestari (THL), perusahaan diduga milik Presiden Prabowo Subianto yang dituding Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) sebagai pengelola HTI, pemicu banjir bandang dan longsor di Aceh.
Pada pembukaan, Kamis (12/12/2025) Perusahaan berkode emiten BRIS itu anjlok ke level 2.170 dari 2.330 per lembar pada pekan lalu. Pengamat pasar modal, Reydi Octa mengatakan, tudingan JATAM membuat para investor berhati-hati dengan emiten yang diduga membiayai Perusahaan perusak lingkungan.
“Hanya tidak dapat dipungkiri, sentimen seperti dugaan pendanaan Tusam Hutani Lestari bisa buat investor melepas saham BRIS dan berhati-hati karena sangkaan tersebut berlawanan dengan tata kelola BRIS yang mengusung ESG friendly. Jadi ya, dugaan ini hanya mempercepat tekanan jual saja pada BRIS untuk jangka pendek,” ujar Reydi kepada Inilah.com, Jakarta, Jumat (12/12/2025).
Reydi mengatakan, jika sangkaan itu benar maka Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus mengeluarkan sanksi bagi Perusahaan yang tak menerapkan Environmental (Lingkungan), Social (Sosial), dan Governance (ESG) di pasar modal Indonesia.
“Jika BSI terbukti melakukannya, tentu yang akan menindak adalah regulator seperti OJK yang biasanya berupa sanksi administratif, mungkin lebih mengarahkan agar dilakukan perbaikan prosedural dalam proses pembiayaannya agar lebih selektif,” jelasnya.
Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan (Sekper) BSI, Wisnu Sunandar membantah kucuran kredit terhadap PT THL. “Sejauh ini, nama yang dimaksud tidak terdapat dalam nasabah pembiayaan dan bahwa tercantum sebagai transaksi pihak berelasi adalah seiring penerapan qanun keuangan syariah maka BSI sebagai bank syariah melayani transaksi dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Aceh,” papar Wisnu kepada Inilah.com, Jakarta, Senin (8/12/2025).
Wisnu menegaskan, BSI tunduk kepada ketentuan perbankan dan menjunjung tinggi prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan syariah di mana di dalamnya terdapat ketentuan menjaga lingkungan. “BSI juga mengimplementasikan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) di dalam bisnis dan operational bank,” tegas dia.
Sementara itu, peneliti dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Yeta Purnama menyebut adanya relasi bisnis antara BSI dengan PT THL. Hal itu terungkap dalam laporan keuangan BSI tahun 2024, halaman 262.
“Dari Annual Report BSI tahun 2024, PT THL termasuk dalam list entitas yang memiliki relasi dengan BSI. Dan, diperkirakan berkaitan dengan pembiayaan operasi Hutan Tanaman Industri (HTI) milik Presiden Prabowo,” papar Yeta kepada Inilah.com, di Jakarta, Senin (5/12/2025).
Dia mengatakan, PT THL diketahui memiliki konsesi lahan yang luasna nyaris 100 hektare. Mulai kehilangan tutupan hutan pegunungan dan menyebabkan kerusakan fungsi vital alam, yakni menjaga keseimbangan ekosistem sekitar.
Dari temuan ini, bisa diartikan BSI termasuk bank bank yang mendukung korporasi yang bisnisnya merusak lingkungan. Alias tidak pro keuangan hijau yang kini sudah menjadi acuan dunia.














