Sudah Betul Purbaya Tolak, Bayar Utang Whoosh dengan APBN Cuma Menambah Defisit Negara

Clara Medium.jpeg

Sabtu, 15 November 2025 – 17:30 WIB

Kereta cepat Whoosh melintas di atas ruas Tol Cikampek di kawasan Bekasi, Jawa Barat. (Foto: Antara)

Kereta cepat Whoosh melintas di atas ruas Tol Cikampek di kawasan Bekasi, Jawa Barat. (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, mendukung pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang tak ingin APBN menanggung risiko kerugian, imbas utang kereta cepat Whoosh.

“Saya setuju dengan Purbaya untuk tidak melibatkan APBN baik secara penyertaan modal negara ataupun sebagai jaminan, jangan,” tegas Bhima Yudhistira kepada Inilah.com, Jakarta, Sabtu (15/11/2025).

Bhima kemudian menyinggung revisi UU BUMN No. 1 tahun 2025 yang telah dilakukan dua kali dalam setahun, yang di dalamnya mengatur pemisahan aset BUMN dengan aset negara. Menurutnya, hal ini membuat posisi Danantara dalam masalah utang ini patut dipertanyakan.

“Maka seolah Danantara mau enak nya aja memang, betul kata Purbaya enak-enaknya deviden BUMN-nya ke Danantara tapi giliran ada permasalahan, APBN yang diikutsertakan,” tegas dia.

Bhima memperingatkan bahwa penggunaan APBN untuk membayar utang berisiko melebarkan defisit anggaran negara. Ia bersikukuh bahwa Danantara harus menjadi pihak utama yang menanggung kewajiban tersebut.

“Harus ada cara-cara kreatif dalam negosiasi Danantara disitu yang bermain peran bukan APBN atau setengah APBN apalagi kalau pake uang rampasan atau hasil sitaan,” kata dia.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah menyampaikan kekhawatirannya. Ia mengungkapkan keengganannya jika pembayaran utang Whoosh justru membebani dan merugikan negara melalui APBN.

Namun, ia mengaku akan tunduk pada arahan Presiden Prabowo Subianto yang telah menyatakan komitmennya untuk menyelesaikan masalah utang proyek era Jokowi ini. “Kalau saya mending enggak bayar. Tapi itu kan ada kebijakan pemimpin di atas ya Presiden, tapi ini belum putus,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (14/11/2025).

Purbaya menjelaskan bahwa jika pun pemerintah akan menanggung, itu hanya pada bagian proyek infrastruktur tertentu, bukan untuk keseluruhan utang termasuk rolling stock. Namun, keputusan finalnya belum ditetapkan.

“Rolling stoknya bukan kita yang nanggung, cuma kita belum sampai kesimpulan detailnya seperti apa. Makannya saya bilang kalau sampai mereka diskusi dengan sana (China), saya ikut, saya mau liat, jangan sampai saya rugi-rugi amat tapi kita lihat yang terbaik buat keuangan negara,” ucap dia.

Sebagai informasi, penanganan utang proyek KCJB Whoosh kepada China Development Bank (CDB) akan melibatkan pembagian peran antara Danantara dan pemerintah.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa pihaknya bersama pemerintah akan menangani utang Kereta Whoosh secara terukur. Hal ini sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo bahwa Whoosh telah membawa manfaat besar, sehingga penanganan utangnya penting untuk menjaga keberlanjutan layanannya.

“Masalah mengenai restrukturisasinya sudah disampaikan Bapak Presiden (Prabowo Subianto) tentu melibatkan pemerintah (dan) Danantara,” kata Donny usai penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) Percepatan Pembangunan Gudang Perum Bulog di Jakarta, Selasa (11/11/2025).

Donny menambahkan, fokus Danantara adalah pada aspek operasional Kereta Whoosh agar layanannya semakin optimal, efisien, dan mampu memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat di wilayah Jakarta-Bandung dan sekitarnya.

Topik
Komentar