Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Tahun 2025 di Jakarta, Jumat (28/11/2025). (Foto: ANTARA/Rizka Khaerunnisa).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, Badan Pengelola Investasi Danantara telah melakukan pembicaraan dengan pihak Amerika Serikat (AS), terkait permintaan akses mineral kritis RI.
Permintaan itu, kata dia, merupakan bagian dari negosiasi tarif resiprokal yang semula 32 persen, kemudian turun menjadi 19 persen.
“Tentu yang critical mineral sudah ada pembicaraan Danantara dengan badan ekspornya di Amerika (AS). Dan juga ada perusahaan Amerika yang sudah berbicara dengan perusahaan critical mineral di Indonesia. Jadi, itu akses terhadap critical mineral yang disediakan pemerintah,” ujar Menko Airlangga kepada wartawan, Jakarta, dikutip Minggu (28/12/2025).
Mantan Ketua Umum Golkar ini, menegaskan, pertukaran sumber daya mineral kritis, bukan hal baru. Di Indonesia, sudah ada perusahaan Freeport yang memiliki afiliasi usaha di AS yang beroperasi di Indonesia yang memasok tembaga atau copper ke AS.
“Nah kita juga sudah memonitor bahwa salah satu critical mineral adalah copper, di mana perusahaan Amerika sudah investasi dari tahun 1967, yaitu Freeport McMorran. Jadi bagi Indonesia, critical mineral dan Amerika itu sesuatu yang sudah dijalankan. Jadi bukan sesuatu yang baru,” kata dia.
Selain tembaga, Menko Airlangga mengungkap potensi mineral kritis lain yang akan dibukakan akses untuk AS. Mulai dari nikel, bauksit, hingga rare earth.
Dia menuturkan, mineral kritis saat ini diperlukan untuk komponen berbagai industri. Mulai dari komponen otomotif, pesawat terbang, hingga pertahanan militer.
“Terhadap semua kan akses itu mereka perlukan karena itu untuk otomotif, untuk pesawat terbang, untuk roket, untuk peralatan pertahanan militer,” jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto telah melakukan pertemuan dengan Pejabat United States Trade Representative (USTR) Duta Besar Jamieson Greer untuk membahas negosiasi lanjutan tarif resiprokal dengan Amerika Serikat (AS).
Dari hasil pertemuan tersebut, Menko Airlangga mengatakan Indonesia tetap dikenakan tarif dagang 19 persen dari sebelumnya 32 persen. AS juga meminta timbal balik dengan pembukaan akses untuk mendapatkan mineral kritis RI. “Amerika sangat berharap untuk mendapatkan akses terhadap kritikal mineral,” ujar Menko Airlangga.
Sebagai gantinya, Indonesia mendapatkan pengecualian tarif khusus untuk sejumlah produk unggulan ekspor seperti kelapa sawit, kopi, kakao, dan komoditas lainnya yakni teh.
“Dan tentu ini menjadi kabar yang baik terutama bagi industri Indonesia yang terdampak langsung kebijakan tarif di mana sektor-sektor yang terkenal tarif tersebut, terutama padat karya, memperkerjakan 5 juta pekerja dan tentunya ini sangat strategis bagi Indonesia,” jelas dia.














