Gunung Rinjani. (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Direktur Next Policy, Yusuf Wibisono menilai kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang ditargetkan 17,6 juta tahun ini, atau pertumbuhan sekitar 15 persen, akan sangat sulit dicapai. Salah satu faktornya karena kenaikan harga avtur yang signifikan, dipastikan akan mendorong kenaikan harga pesawat.
“Dengan lebih dari 80 persen kunjungan wisatawan asing dari jalur udara, maka kenaikan harga tiket pesawat akan memengaruhi kunjungan wisatawan secara signifikan. Tahun lalu, dengan kondisi ekonomi global yang lebih baik tanpa ada kenaikan harga minyak dunia, pertumbuhan wisatawan mancanegara kita hanya sekitar 10 persen,” jelas Yusuf kepada inilah.com saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (15/5/2026).
Untuk itu, demi menjaga kinerja pariwisata, ia menyebut setidaknya pemerintah dapat melakukan dua hal ini. Pertama, secepatnya melakukan diversifikasi destinasi wisata unggulan. Ia menyebut, hingga kini pariwisata kita sangat didominasi oleh Bali.
“Hampir setengah wisatawan mancanegara masuk ke Indonesia melalui pintu masuk Bali. Hampir 80 persen wisatawan asing masuk hanya melalui 3 pintu masuk utama yaitu Bali, Jakarta dan Batam,” ungkapnya.
Untuk diversifikasi destinasi wisata, kata dia, pemerintah harus serius membangun dan mengembangkan destinasi wisata unggulan non Bali yang berkelas dunia, seperti Gili Trawangan, Mandalika, Gunung Rinjani, Labuan Bajo, Pulau Komodo, Wakatobi, Bunaken, Tana Toraja, Raja Ampat, Desa Adat Wae Rebo, Danau Kelimutu, hingga Candi Borobudur dan Gunung Bromo.
“Kedua, untuk menjaga kinerja pariwisata nasional, menjadi penting untuk mengembangkan secara serius pariwisata berkelanjutan, terutama pariwisata halal. Selama ini pengembangan pariwisata kita masih sangat tradisional, yaitu fokus pada jumlah wisatawan sebanyak-banyaknya (mass-tourism),” kata Yusuf.
Padahal lanjutnya, kinerja pariwisata tidak hanya ditentukan oleh jumlah wisatawan, namun yang lebih penting adalah memperpanjang lama masa kunjungan mereka. Salah satu cara terbaik adalah dengan mengkaitkan pariwisata secara integral dengan pelestarian lingkungan hidup, seni-budaya dan nilai-nilai luhur bangsa, termasuk agama.
Yusuf menilai pariwisata halal merupakan keunggulan pariwisata Indonesia yang belum banyak tergali potensinya, selain kekayaan warisan budaya dan kekayaan alam.
“Dengan mengembangkan pariwisata halal, maka pariwisata Indonesia akan dikembangkan menuju pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) yang memiliki ciri memberi pencerahan bagi wisatawan untuk menghormati, menyokong, melindungi dan menegaskan karakter kultural Indonesia, lalu memberi manfaat ekonomi secara luas kepada masyarakat lokal, melindungi alam dan lingkungan hidup, serta erorientasi pada pengalaman wisata yang berkualitas dan unik, tidak semata orientasi pada jumlah,” tuturnya.
Dengan demikian, pengembangan sustainable tourism secara serius termasuk pariwisata halal, penting untuk ditekankan, karena hal ini sebenarnya keunggulan utama Indonesia, namun terlihat kurang diperhatikan.
“Lombok dan NTB misalnya, sangat kaya dan potensial untuk wisata budaya, wisata kuliner, wisata bahari dan juga wisata religi, namun alih-alih mengembangkan pariwisata halal kita malah justru membangun sirkuit moto GP di sana,” paparnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













