Tak Mau Asal Teken, Swedia dan Polandia Pilih Menjauh dari ‘Dewan Perdamaian’ Trump

Ikhsan Medium.jpeg

Kamis, 22 Januari 2026 – 01:02 WIB

Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson diwawancarai oleh wartawan di sela-sela perhelatan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (21/1/2026). (Foto: TT/Pär Bäckström)

Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson diwawancarai oleh wartawan di sela-sela perhelatan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (21/1/2026). (Foto: TT/Pär Bäckström)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Gelombang skeptisisme mulai menghantam rencana besar Donald Trump untuk Timur Tengah. Meski sejumlah negara sudah menyatakan bergabung, dua negara Eropa, Swedia dan Polandia, justru memilih memasang rem darurat terkait ajakan masuk ke dalam ‘Dewan Perdamaian’ Gaza.

Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson secara terbuka menyatakan bahwa Stockholm tidak akan ikut serta dalam dewan tersebut jika formatnya masih seperti yang ditawarkan saat ini. Menurutnya, draf yang diajukan kubu Trump masih menyisakan banyak tanda tanya besar bagi negara-negara Eropa.

“Kami belum memberikan tanggapan resmi, tapi kami sedang membahasnya bersama negara-negara Eropa lainnya. Berdasarkan naskah yang ada saat ini, Swedia tidak akan menandatanganinya,” tegas Kristersson di sela-sela perhelatan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (21/1/2026).

Polandia Tuntut Kejelasan Status

Setali tiga uang dengan Swedia, Polandia juga emoh terburu-buru mengambil keputusan. Juru bicara parlemen Polandia, Wlodzimierz Czarzasty, menilai proyek ambisius Trump ini masih ‘abu-abu’ dari sisi legalitas dan status internasional.

“Tidak perlu tergesa-gesa. Saya ingin tahu dulu status Dewan Perdamaian ini apa? Apakah ini organisasi internasional resmi atau format lain? Bagi saya, ini persoalan yang patut dicermati dengan sangat teliti,” kata Czarzasty lugas.

Bagi Polandia, kepastian status organisasi sangat krusial. Tanpa kejelasan itu, Warsawa enggan menentukan apakah keterlibatan mereka harus diwakili secara resmi atau sekadar pemantau.

Isi ‘Dream Team’ Trump yang Kontroversial

Sebagaimana diketahui, pekan lalu Donald Trump telah mengumumkan susunan elite yang bakal mengisi dewan tersebut. Nama-nama besar yang dikenal dekat dengan Trump masuk dalam jajaran pengurus, di antaranya:

  • Marco Rubio (Menteri Luar Negeri AS)
  • Jared Kushner (Menantu Trump)
  • Steve Witkoff (Utusan Khusus Trump)
  • Tony Blair (Mantan PM Inggris)
  • Ajay Banga (Presiden Bank Dunia)

Tak hanya sekadar ‘klub elite‘, rencana Trump untuk Gaza ini sebenarnya telah mendapat dukungan dari Dewan Keamanan PBB melalui resolusi pertengahan November lalu. Sebanyak 13 anggota setuju, sementara raksasa timur, Rusia dan China, memilih abstain.

Pemerintahan Transisi dan Pasukan Internasional

Rencana ambisius yang digodok Washington ini bukan cuma soal perundingan di meja hijau. Ada tiga poin utama yang diusung Trump untuk membenahi Gaza:

  1. Pembentukan pemerintahan internasional sementara di wilayah Gaza.
  2. Pendirian Dewan Perdamaian yang dipimpin langsung oleh Trump.
  3. Pengerahan pasukan stabilisasi internasional untuk menjaga keamanan di lapangan.

Meski didukung mayoritas anggota Dewan Keamanan PBB, sikap ‘ogah-ogahan’ dari Swedia dan Polandia ini menunjukkan bahwa konsensus global soal masa depan Gaza masih jauh dari kata bulat. 

Bola panas kini kembali ke tangan Trump: apakah ia akan melunakkan format dewan tersebut demi merangkul Eropa, atau tetap melaju dengan barisan sekutu yang sudah ada?