Rupiah Terperosok ke Rp17.500, Bank Indonesia Siapkan ‘Smart Intervention’

Nilai tukar rupiah kian menunjukkan performa yang mencemaskan. Pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026), mata uang Garuda resmi terkapar di level Rp17.529 per dolar AS, melemah tajam 115 poin atau 0,66 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Bank Indonesia (BI) pun tidak tinggal diam melihat rupiah yang terus ‘babak belur’ dihantam sentimen global dan kebutuhan domestik yang melonjak. Bank sentral memastikan bakal bersikap all out di pasar guna meredam volatilitas yang kian beringas.

Kombinasi Maut Global dan Musiman

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa tekanan hebat ini merupakan akumulasi dari faktor luar dan dalam negeri. Di kancah global, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi biang kerok utama yang memicu kenaikan harga minyak dan ketidakpastian pasar.

Sementara dari dalam negeri, rupiah sedang menghadapi masa ‘paceklik’ valas akibat siklus musiman.

“Ada peningkatan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri (ULN), pembagian dividen, hingga kebutuhan ibadah haji. Ini memicu permintaan valas yang tinggi di pasar domestik,” ujar Destry dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, dikutip Rabu (13/5/2026).

Strategi ‘Smart Intervention’ Bank Sentral

Menghadapi situasi ini, BI berkomitmen untuk selalu hadir di pasar melalui strategi smart intervention. Langkah ini mencakup intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar Non-Deliverable Forward (NDF).

Destry menegaskan, BI akan mengoptimalkan semua instrumen operasi moneter untuk menjaga stabilitas. Meski rupiah sedang tertekan, ia melihat kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio domestik justru membaik. Hal ini terbukti dari aliran modal masuk (inflow) ke pasar SBN dan SRBI yang mencapai Rp61,6 triliun sepanjang April 2026.

“Kami memperkirakan tekanan musiman ini akan segera mereda, sehingga rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya,” tambah Destry penuh optimisme.

Cadangan Devisa Terkuras untuk Stabilisasi

Upaya menjaga otot rupiah ini tentu bukan tanpa biaya. Posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar US$146,2 miliar, menyusut US$2 miliar dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan ini tak lepas dari langkah berani BI melakukan stabilisasi nilai tukar serta pembayaran utang luar negeri pemerintah. Meski cadev menurun, Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menegaskan bahwa likuiditas valas masih tetap memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar di periode krusial April hingga Mei.

Kini, pasar menanti sejauh mana efektivitas ‘jurus’ BI dalam menjinakkan dolar AS yang kian perkasa. Dengan kurs JISDOR yang sudah bertengger di level Rp17.514, stabilitas rupiah menjadi pertaruhan besar bagi kredibilitas moneter Tanah Air di tengah badai geopolitik dunia.