Ekonom senior Bright Institute Nasyith Majidi. (Foto: Dokumen pribadi)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ekonom senior Bright Institute Nasyith Majidi mencermati nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus melemah hingga menyentuh level Rp17.500-an per dolar AS (US$) di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026.
“Angka tertinggi untuk kuartal I dalam 13 tahun. BPS menyebut konsumsi rumah tangga dan stimulus pemerintah jadi penopang utama,” ujar Nasyith dalam perbincangan dengan Inilah.com saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, dikutip Jumat (15/5/2026).
Di atas kertas, kata dia, ini kabar baik. Tapi bila melihat pasar keuangan, ceritanya lain, yakni rupiah menyentuh Rp17.500 per dolar AS pada Mei 2026. “Titik terlemah dalam sejarah modern. IHSG juga ambruk 19,55 persen year-to-date. Pertumbuhan tinggi, tapi kepercayaan rapuh,” kata Nasyith.
Permintaan Dolar Melonjak
Menurutnya, ketidakcocokan ini bukan kebetulan. Dana asing keluar karena ekspektasi suku bunga The Fed masih tinggi dan tensi geopolitik Timur Tengah memanas. Di dalam negeri, permintaan dolar melonjak untuk impor dan kebutuhan korporasi. Bank Indonesia sudah intervensi dan memperketat pembelian dolar di atas USD25.000 per bulan.
“Gubernur BI bahkan menyebut rupiah undervalued dibanding fundamental. Tapi pasar tidak menunggu data, pasar menunggu kepastian,” tambah salah satu pendiri Bright Institute ini.
Masalahnya, sambung Nasyith, fundamental kuat belum otomatis menenangkan pasar. Ketika masyarakat sendiri mulai menambal kebutuhan harian dengan pinjaman online (pinjol) dan paylater yang tumbuh 25-86 persen year-on-year (yoy), sinyalnya jelas, yaitu daya beli tertatih.
“Konsumsi naik, tapi sebagian dibiayai utang. Kalau rumah tangga rapuh, konsumsi yang menopang 60 persen PDB juga rapuh,” tutur Nasyith yang juga membidani lembaga riset Econit Advisory Group ini.
Periksa Kembali Kebijakan Fiskal
Lebih jauh Nasyith menerangkan “rukiah” di sini bukan mistis, tapi proses memeriksa kembali. Pemerintah perlu merukiah kebijakan fiskal agar belanja produktif, bukan sekadar konsumtif. “Merukiah sektor riil agar kenaikan PDB diikuti kenaikan upah riil. Merukiah komunikasi kebijakan agar pasar melihat arah, bukan hanya reaksi,” lanjutnya.
Selanjutnya dia menekankan, rupiah akan stabil kalau tiga hal jalan bersama, yaitu inflasi terkendali, arus modal masuk, dan kepercayaan publik pulih. Tanpa itu, angka 5,61 persen hanya jadi angka di slide presentasi.
“Tumbuh tapi rapuh adalah kondisi paling berbahaya, karena runtuhnya bisa cepat saat sentimen berbalik,” tegas Nasyith yang juga turut membidani lembaga riset Econit Advisory Group ini.
Jadi, tutur Nasyith, pertanyaannya bukan lagi “apakah rupiah bisa menguat?”, tapi “apakah kita berani merapikan fondasi sebelum badai berikutnya datang?”.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













