Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan senin (6/7/2026). (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berhasil ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat (17/7/2026) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang masih membayangi pasar keuangan global. Penguatan mata uang Garuda ditopang oleh membaiknya aktivitas dunia usaha di dalam negeri berdasarkan survei terbaru Bank Indonesia (BI).
“Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup menguat 65 poin ke level Rp17.921 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp17.986 per dolar AS. Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.870 sampai Rp17.930. Sedangkan dalam perdagangan sepekan di level Rp17.750 sampai Rp18.050,” ujar Pengamat Ekonomi dan Mata Uang Komoditas, Ibrahim Assuaibi, Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Ibrahim mengatakan, penguatan rupiah masih dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Dari sisi eksternal, pasar masih dibayangi eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap target Iran. Ketegangan tersebut memperpanjang konflik dan mendorong harga minyak dunia tetap tinggi. Kondisi ini kembali memunculkan kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi dapat menghidupkan kembali tekanan inflasi global.
Lonjakan harga minyak dinilai dapat memperumit arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Meski data inflasi konsumen dan produsen AS terbaru menunjukkan tekanan harga mulai mereda, pelaku pasar lebih memfokuskan perhatian pada risiko kenaikan harga energi yang berpotensi membalikkan tren disinflasi.
Sementara dari dalam negeri, sentimen positif datang dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia yang menunjukkan aktivitas bisnis terus meningkat pada kuartal II-2026. BI mencatat Saldo Bersih Tertimbang (SBT) mencapai 12,97%, naik dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 10,11%.
Peningkatan tersebut didorong oleh membaiknya kinerja sejumlah sektor utama, seperti pertanian, kehutanan dan perikanan, konstruksi, pertambangan, serta sektor akomodasi dan makanan-minuman yang terdorong momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan musim liburan sekolah.
Sejalan dengan itu, kapasitas produksi terpakai juga meningkat menjadi 73,8%, lebih tinggi dibandingkan realisasi kuartal sebelumnya sebesar 73,33%.
“Kondisi keuangan dunia usaha secara umum tetap baik pada aspek likuiditas maupun rentabilitas, dengan akses kredit yang tetap mudah,” kata dia.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













