Samsung Galaxy Z Fold 8 Tembus Rp50 Juta, Masih Mau Bilang Murah?

Samsung Electronics menghadapi tantangan besar menjelang peluncuran lini ponsel lipat terbarunya, Galaxy Z Fold 8 Series

Di tengah kenaikan harga komponen semikonduktor atau chipflation, harga perangkat flagship terbaru itu diperkirakan melonjak hingga menembus 3 juta won atau sekitar Rp35 juta-Rp38 juta di sejumlah pasar.

Samsung dijadwalkan memperkenalkan jajaran ponsel lipat terbarunya dalam ajang Galaxy Unpacked yang digelar di London pada 22 Juli 2026. Namun sebelum peluncuran resmi, bocoran harga dari sejumlah distributor Eropa mengindikasikan adanya kenaikan harga dibanding generasi sebelumnya.

Galaxy Z Fold 8 Ultra Diprediksi Makin Mahal

Laporan media Korea Selatan asiae.co.kr menyebut varian tertinggi, Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra dengan kapasitas 256 GB, diperkirakan dibanderol 2.199 euro atau sekitar Rp41 jutaan di Eropa.

Sementara varian 512 GB diprediksi dijual 2.399 euro, sedangkan model 1 TB bisa mencapai 2.799 euro atau sekitar Rp52 juta.

Untuk pasar Amerika Serikat, Galaxy Z Fold 8 Ultra disebut berpotensi dibanderol mulai US$2.099, sedangkan Galaxy Z Fold 8 reguler diperkirakan mulai US$1.899.

Apabila dikonversi ke mata uang Korea Selatan, sebagian besar model Galaxy Z Fold 8 diperkirakan akan dijual di atas 3 juta won, menjadikannya salah satu smartphone Samsung dengan harga tertinggi.

Chipflation Jadi Penyebab Utama

Kenaikan harga tersebut disebut tidak lepas dari fenomena chipflation, yaitu lonjakan harga komponen semikonduktor yang terjadi dalam dua tahun terakhir.

Menurut data Counterpoint Research, meningkatnya permintaan chip untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI) membuat harga memori DRAM dan NAND Flash naik tajam.

Pada smartphone premium dengan harga sekitar US$800, porsi biaya memori meningkat dari 14 persen pada awal 2025 menjadi sekitar 40 persen pada pertengahan 2026.

Dalam periode yang sama, biaya komponen DRAM dan NAND meningkat dari US$63 menjadi US$291, atau naik sekitar 4,6 kali lipat.

Kondisi tersebut membuat produsen smartphone premium, termasuk Samsung, harus menyesuaikan harga jual untuk menjaga margin keuntungan.

Samsung Hadapi Dua Tantangan Sekaligus

Selain tekanan biaya produksi, Samsung juga harus menghadapi persaingan yang semakin ketat di pasar ponsel lipat.

Laporan tersebut menyebut desain baru Galaxy Z Fold 8 dengan rasio layar 4:3 saat dibuka merupakan salah satu strategi Samsung untuk mengantisipasi kehadiran iPhone lipat pertama yang juga dirumorkan menggunakan rasio serupa.

Apple sendiri diperkirakan akan meluncurkan foldable iPhone pada 2027 dengan kisaran harga yang tidak jauh berbeda dari Galaxy Z Fold 8 Ultra.

Persaingan ini membuat Samsung harus memastikan kenaikan harga tetap diimbangi dengan peningkatan pengalaman penggunaan, terutama melalui integrasi AI yang menjadi fokus utama Galaxy Z Fold generasi terbaru.

Galaxy S26 Jadi Modal Optimisme

Meski menghadapi tantangan, Samsung memiliki modal positif.

Seri Galaxy S26 berhasil mencatat penjualan 3 juta unit hanya dalam 117 hari di Korea Selatan, menjadi rekor tercepat perusahaan untuk lini Galaxy S.

Kesuksesan tersebut diharapkan dapat berlanjut pada lini foldable, terutama ketika pasar smartphone lipat global diperkirakan terus berkembang.

Counterpoint Research memperkirakan pengiriman panel smartphone lipat dunia mencapai 27,5 juta unit pada 2026 atau tumbuh sekitar 24 persen dibanding tahun sebelumnya.

Samsung diproyeksikan tetap menjadi pemimpin pasar foldable dengan pangsa sekitar 31 persen, sementara Apple diperkirakan langsung menempati posisi kedua dengan 29 persen setelah memasuki segmen tersebut.

Dengan harga yang semakin premium dan persaingan yang makin ketat, peluncuran Galaxy Z Fold 8 Series akan menjadi salah satu ujian terbesar Samsung untuk mempertahankan dominasinya di pasar smartphone lipat.