Di Washington maupun di Israel, sebuah asumsi yang lazim berkembang tetap ada: bahwa tekanan, sanksi, isolasi, dan tekanan militer yang cukup pada akhirnya akan memaksa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, untuk menyerah.
Namun pada akhirnya, Washington maupun Tel Aviv salah perhitungan.
Asumsi itu keliru bagi mereka yang memahami sosok yang berada di pusat sistem politik Iran. Khamenei bukan hanya pemimpin politik, ia juga pemimpin spiritual yang membimbing rakyat Iran pada nilai-nilai yang diyakininya luhur.
Khamenei tidak akan menerima “penyerahan tanpa syarat”, bukan karena ia salah membaca peta kekuatan militer dan bukan pula karena ia meremehkan kehancuran ekonomi bagi negaranya.
Ia tidak akan menyerah karena, dalam pandangan dunianya, penyerahan bukanlah keputusan yang menguntungkan. Mengalah di bawah tekanan Amerika dan Israel justru akan menghancurkan eksistensi politik, budaya, dan bangsanya.
Untuk memahami hal ini, seseorang harus mulai bukan dengan rudal, melainkan dengan identitas. Imam Khomeini dan Ali Khamenei telah meletakkan dasar-dasar Republik Islam dan identitas Islam yang kuat dan ketat.
Identitas kebudayaan Persia dengan segala arsitektur kekuasaannya dalam sejarah, serta identitas politik Islam yang menjadi fondasi pemerintahan Republik Islam, menjadi benteng moral bagi pemerintahan dan rakyat Iran.
Keandalan sistem politik yang menempatkan struktur ulama sebagai pemegang kekuasaan tertinggi (wilayatul faqih) telah menciptakan pemerintahan yang relatif stabil.
Sistem kaderisasi kepemimpinan dilandaskan pada nilai agama dan moral yang ketat, yang memungkinkan calon penerus pemimpin Republik Islam memiliki kepribadian kuat, identitas politik yang mengakar, dan kesalihan yang berwibawa, sehingga dipandang layak ditaati sebagai ulil amri.
Tidak mengherankan, meskipun bom telah membunuh Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa tokoh penting Iran, pemerintahan Iran tetap menyediakan mekanisme transisi politik yang berjalan otomatis bagi penerus kekuasaan. Tidak terjadi krisis kepemimpinan maupun kekosongan politik, karena sistem telah dirancang untuk keberlanjutan.
Kesyahidan Ali Khamenei pada usia 86 tahun dinilai telah meninggalkan warisan sistem politik dan pemerintahan yang kuat. Selain sistem politik, ia juga mewariskan semangat perlawanan. Seperti para pendahulunya, darahnya dipandang sebagai simbol perjuangan yang akan menerangi jalan generasi berikutnya. Syahadah diyakini sebagai puncak kehormatan para pejuang.
Iran memiliki Garda Revolusi yang tumbuh dari pasukan revolusioner menjadi jantung kekuatan Republik Islam. IRGC bukan hanya kekuatan militer, tetapi juga jaringan ekonomi, intelijen, patronase, dan ideologi. Ia menjadi bagian kunci negara Iran secara internal.
Upaya Donald Trump dan Benjamin Netanyahu untuk menggulingkan pemerintahan Islam dengan menggantinya dengan rezim boneka dinilai utopis dan nyaris mustahil, sebagaimana skenario yang pernah dicoba di Venezuela. Iran memiliki sistem pemerintahan yang tidak bergantung pada individu tunggal, melainkan kepemimpinan kolektif di tingkat tertinggi melalui otoritas ulama.
Kekeliruan perhitungan geopolitik Trump yang menyeret AS menyerang Iran atas dorongan Netanyahu disebut sebagai langkah fatal. Ide untuk menggulingkan pemerintahan dengan melenyapkan pemimpin tertinggi justru menyeret AS menjadi bagian langsung dalam perang melawan Iran.
Akibatnya, AS menghadapi kerugian signifikan akibat serangan balasan Iran. Israel pun mengalami kekacauan dan kerusakan yang luas. Trump dinilai salah secara geopolitik dan kini fokus melindungi pangkalan militer AS di negara-negara Timur Tengah yang diserang secara masif oleh rudal Iran.
Perang berkecamuk. Trump memperkirakan konflik akan berlangsung selama empat minggu. Namun, apakah benar perang akan sesingkat itu, atau justru berkembang menjadi ketegangan panjang yang membawa instabilitas berkepanjangan bagi Timur Tengah?
Serangan Iran terhadap Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi menyasar pangkalan militer AS yang digunakan untuk menyerang Iran. Iran tidak berperang dengan negara-negara Islam tersebut, tetapi menargetkan infrastruktur militer AS di wilayah mereka sebagai respons.
Kebohongan Trump
Di tengah situasi Timur Tengah yang memanas, penulis menilai adanya kebohongan politik Trump dan Israel. Keduanya dinilai berupaya mengajak negara-negara kawasan untuk ikut menyerang Iran.
Sentimen Sunni versus Syiah disebut sebagai upaya untuk memecah belah negara-negara Muslim. Namun sentimen itu dinilai tidak sepenuhnya efektif, meskipun negara-negara Muslim Sunni merasa tidak aman akibat serangan rudal Iran di wilayah mereka. Iran beralasan bahwa serangan tersebut merupakan balasan terhadap aksi militer AS-Israel dengan menargetkan pangkalan militernya.
Trump juga disebut berhasil membentuk sebuah Badan Perdamaian (Board of Peace). Badan ini dinilai justru menyeret negara-negara, termasuk Indonesia, dalam dinamika politik yang kontroversial.
Operasi militer di wilayah Gaza terus berlangsung. Tidak ada perdamaian, yang ada justru dominasi politik AS. Board of Peace dinilai hanya menjadi alat legitimasi.
Penulis mendukung desakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar Indonesia keluar dari BoP. Menurutnya, keanggotaan Indonesia tidak memberikan nilai tambah bagi diplomasi internasional maupun perjuangan Palestina. Bahkan dinilai berisiko mereduksi posisi Indonesia dalam percaturan global.
Runtuhnya Mitos AS-Israel
Perang yang semula diperkirakan hanya berlangsung empat hari kini diperkirakan berlangsung empat hingga lima minggu. Trump sendiri mengakui potensi perang berkepanjangan.
Iran menyatakan kesiapan menghadapi perang hingga waktu yang panjang, bahkan hingga meraih kemenangan. Perang dipandang bukan sekadar kalkulasi militer, melainkan upaya menjaga martabat bangsa.
Situasi geopolitik dunia sedang bergejolak. Penulis menilai terjadi runtuhnya mitos super power dunia. Kekuatan militer yang selama ini ditakuti dinilai tidak sedahsyat yang dibayangkan.
Iran dipandang telah menantang mitos tersebut. Dunia menyaksikan sulitnya Amerika dan Israel menundukkan Iran, bahkan dengan dukungan sekutu.
Ayatollah Ali Khamenei dinilai telah menyampaikan pesan tegas bahwa Iran tidak akan tunduk. Dan itulah yang, menurut penulis, sedang dipertahankan oleh Iran hari ini.













