Pemulihan Akses Telekomunikasi di Sumatera Dikebut, Menkomdigi Meutya Target 4 Hari

Ibnu Medium.jpeg

Senin, 1 Desember 2025 – 21:46 WIB

Kondisi sekolah yang terdampak banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Senin (1/12/2025). (Foto: Antara)

Kondisi sekolah yang terdampak banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Senin (1/12/2025). (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Upaya menghidupkan kembali layanan telekomunikasi di wilayah terdampak banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dikebut. Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid menargetkan pemulihan koneksi bisa berlangsung cepat dalam empat hari, bergantung pada penyalaan listrik oleh PLN.

Dalam konferensi pers Rapat Koordinasi Penanganan Akses Telekomunikasi di Medan, Senin, Meutya menjelaskan bahwa kerusakan akses telekomunikasi di Aceh mencapai titik terparah karena 60 persen jaringan terputus akibat mati listrik.

“PLN mengatakan kalau dalam empat hari mudah-mudahan sudah bisa nyala listriknya. Dengan demikian, kami cukup optimistis bahwa tanggal 5 itu Aceh bisa up 75 persen dari kondisi sekarang yang baru 40 persen,” kata Meutya.

Menurut dia, PLN menargetkan pasokan listrik kembali stabil pada 4 Desember. Begitu listrik menyala, tiga operator seluler dapat bergerak serentak melakukan perbaikan infrastruktur dan aktivasi jaringan.

Selain pemulihan BTS, percepatan akses juga ditempuh melalui koneksi berbasis satelit. Bakti Kominfo telah mengoperasikan 10 titik bantuan, sementara Starlink menambah 149 titik di tiga provinsi terdampak. Penentuan lokasi dilakukan bersama pemerintah daerah.

Meutya menekankan bahwa percepatan pemulihan hanya bisa dicapai melalui kolaborasi lintas sektor. Ia meminta kementerian, operator seluler, dan aparat pertahanan bergerak bersama, termasuk kemungkinan pengiriman perangkat BTS menggunakan Hercules bekerja sama dengan TNI.

“Kami tekankan pentingnya berkolaborasi dalam percepatan, misalnya dalam pengiriman instalasi-instalasi infrastruktur. Ini bisa dilakukan bersamaan, tidak masing-masing,” ujarnya.

Selain teknis pemulihan jaringan, operator seluler juga diminta memberikan keringanan bagi masyarakat. Komitmen itu mencakup akses internet gratis di posko pengungsian, layanan kesehatan, hingga kantor pemerintah. Operator juga sepakat memperpanjang masa aktif kartu dan menyediakan starter pack gratis bagi warga yang kehilangan ponsel atau perangkatnya terendam.

Data Komdigi mencatat tingkat pemulihan BTS di Sumatera Utara telah mencapai sekitar 90 persen. Sumatera Barat berada di angka serupa dengan 1.007 dari 1.066 BTS sudah aktif. Aceh masih menjadi tantangan terbesar dengan tingkat pemulihan baru 40 persen.

Telkomsel di Aceh dari total 1.964 BTS baru mengaktifkan 708 unit. Operator itu menargetkan 74 persen jaringan kembali hidup pada 5 Desember. Di Sumatera Utara 4.136 dari 4.610 BTS Telkomsel sudah berfungsi normal, sementara di Sumatera Barat hampir seluruh jaringan telah pulih.

XL Smart menghadapi kendala serupa di Aceh. Dari sekitar 900–1001 BTS, sebanyak 541 belum bisa menyala karena listrik belum tersedia. Di Sumatera Utara, 4 persen jaringan masih mati dari total 900 BTS. Sementara di Sumatera Barat, dari 3.000 BTS milik XL Smart hanya 23 yang belum aktif.

Pemerintah menegaskan proses pemulihan tidak akan berhenti hingga seluruh wilayah terdampak kembali mendapatkan akses komunikasi yang stabil. Dalam kondisi bencana, kata Meutya, jaringan telekomunikasi adalah infrastruktur penyelamat yang harus dipulihkan secepat mungkin.

Topik
Komentar